
Senja jatuh perlahan, tapi hujan lebih dulu tiba,
menutup langit dengan tirai yang tak sempat kugeser.
Aku menunggumu di balik jendela yang berembun,
dengan hati yang terus mengetuk pintu
yang tak pernah lagi kau buka.
Rintik hujan menyimpan wajahmu di setiap kaca yang kusentuh,
namun sekali usap, semuanya hilang.
Rindu ini terlalu dalam untuk tenggelam,
tapi terlalu sunyi untuk kau dengar —
seperti doa yang tersesat di jalan pulang.