Ramadan di Pasar Cirebon: Antara Cabe Kering dan Waktu yang Berlari
Cahaya matahari sore jatuh miring di sela terpal yang mulai pudar warnanya. Di sebuah lorong pasar Cirebon, plastik-plastik bening berisi…
Catatan Hidup Warga & Denyut Kota
Cahaya matahari sore jatuh miring di sela terpal yang mulai pudar warnanya. Di sebuah lorong pasar Cirebon, plastik-plastik bening berisi…
Pagi di pasar selalu dimulai dengan transaksi. Tawar-menawar, plastik kresek yang dibuka, sayur yang ditimbang, dan suara sepeda yang berhenti…
Ramadan di Cirebon tidak pernah datang dengan gegap gempita yang meledak-ledak. Ia datang pelan, seperti angin laut yang berembus dari…
Di Cirebon, pagi selalu dimulai dengan gerak. Warung dibuka. Toko bangunan menaikkan rolling door. Pedagang kuliner menyalakan kompor. Di sela…
Di tengah riuh Kota Cirebon yang terus bergerak—di antara pasar pagi, warung kopi, sekolah, kantor, dan lalu lintas yang tak…
Di sudut-sudut toko Kota Cirebon, warna merah kembali mendominasi ruang. Gantungan berumbai, lampion kecil, simpul tak berujung, hingga ornamen bertuliskan…
Di Cirebon, rasa tidak lahir dari dapur tertutup. Ia tumbuh di pinggir jalan, di bawah pohon tua, di atas bara…
Air itu tidak mengalir deras. Ia hanya diam, tenang, memantulkan batang pohon, langit yang tertutup daun, dan sisa-sisa hari yang…
Gerobak kayu itu tak pernah benar-benar diam. Roda besinya meninggalkan jejak tipis di tanah basah, berpindah dari satu sudut ke…
Di sebuah meja kayu sederhana, semangkuk es duren tersaji tanpa pretensi. Daging durian yang tebal bertumpuk di atas es serut,…
Di ruang yang dingin oleh lampu dan beton, tumpukan buku tersusun rapi—diam, tapi penuh suara. Sampul-sampul berwarna itu memanggil dengan…
Pagi belum sepenuhnya bising ketika seorang petugas kebersihan berjongkok di tepi trotoar. Seragam hijaunya menyatu dengan warna dedaunan yang basah,…