Bagi warga Cirebon, pembagian antara Kota Cirebon dan Kabupaten Cirebon sering terasa membingungkan. Satu alamat bisa berjarak hanya beberapa ratus meter, tetapi urusan administrasi, sekolah, hingga layanan publiknya berbeda. Banyak warga terbiasa menjalani kondisi ini tanpa pernah benar-benar tahu: kenapa Cirebon bisa terbelah seperti sekarang?
Artikel ini mencoba menjelaskan secara ringkas dan utuh, tanpa istilah rumit, tentang asal-usul dan dampaknya bagi kehidupan warga.
Awalnya Cirebon Satu Wilayah
Secara historis, wilayah Cirebon berkembang sebagai satu kesatuan budaya, ekonomi, dan pemerintahan. Aktivitas perdagangan, pelabuhan, dan pusat kekuasaan tumbuh di area yang kini menjadi Kota Cirebon, sementara wilayah sekitarnya berkembang sebagai kawasan penyangga pertanian dan pemukiman.
Dalam perjalanan waktu, pertumbuhan kota menjadi semakin padat dan kompleks. Kebutuhan pengelolaan wilayah perkotaan yang lebih fokus kemudian mendorong pemisahan administratif.
Pemekaran: Kota dan Kabupaten Berjalan Sendiri
Pemisahan Kota Cirebon dari Kabupaten Cirebon merupakan bagian dari kebijakan pemerintahan untuk meningkatkan efektivitas pelayanan publik. Kota Cirebon dibentuk sebagai wilayah administratif tersendiri dengan kewenangan mengelola urusan perkotaan, sementara Kabupaten Cirebon tetap menangani wilayah yang lebih luas dengan karakter pedesaan dan pinggiran kota.
Secara sederhana:
- Kota Cirebon fokus pada layanan perkotaan, kepadatan penduduk, perdagangan, dan jasa.
- Kabupaten Cirebon mengelola wilayah yang lebih luas dengan karakter desa, kecamatan, dan kawasan berkembang.
Kenapa Dampaknya Terasa Sampai Sekarang?
Pemisahan ini membawa konsekuensi yang dirasakan langsung oleh warga, antara lain:
1. Urusan Administrasi Berbeda
Pengurusan KTP, KK, perizinan, hingga sekolah mengikuti wilayah administratif. Warga yang tinggal di “perbatasan” sering merasa repot karena harus ke kantor yang berbeda meski jaraknya lebih jauh.
2. Kebijakan Tidak Selalu Sinkron
Aturan parkir, tata kota, penataan pedagang, hingga pembangunan jalan bisa berbeda antara Kota dan Kabupaten, meskipun wilayahnya berdampingan.
3. Identitas Warga yang Tumpang Tindih
Secara budaya dan sosial, banyak warga merasa “orang Cirebon” tanpa sekat. Namun secara administratif, pembagian ini sering memunculkan kebingungan, terutama bagi pendatang dan generasi muda.
Apakah Pembagian Ini Bisa Diubah?
Dalam sistem pemerintahan saat ini, penggabungan kembali bukan perkara mudah. Perubahan wilayah administratif melibatkan regulasi nasional, kepentingan pemerintahan, serta kesiapan infrastruktur dan anggaran.
Yang lebih realistis untuk diperjuangkan adalah sinkronisasi kebijakan dan kerja sama lintas wilayah, agar layanan publik tidak memberatkan warga hanya karena batas administratif.
Yang Perlu Dipahami Warga
Pembagian Kota dan Kabupaten bukan sekadar soal peta, tetapi soal cara pelayanan dijalankan. Dengan memahami perbedaan kewenangan ini, warga bisa:
- Lebih tepat mengurus administrasi
- Lebih kritis terhadap kebijakan lokal
- Lebih aktif mendorong koordinasi antarwilayah
Penutup
Cirebon memang terbagi secara administratif, tetapi kehidupan warganya tetap menyatu. Memahami sejarah dan fungsi pembagian ini membantu kita melihat persoalan sehari-hari dengan lebih jernih—bukan untuk menyalahkan, tetapi untuk mencari jalan agar layanan publik semakin berpihak pada warga.
Catatan Redaksi:
Artikel ini disusun sebagai bagian dari rubrik Cirebon Explained, untuk membantu warga memahami isu-isu lokal secara utuh dan kontekstual.