Pagi hari di Stadion Bima, Cirebon, selalu punya suasana yang khas. Langit masih bersih, pepohonan rindang menaungi lintasan, dan langkah-langkah kecil warga mulai mengisi ruang. Ada yang berjalan santai, ada yang berlari, ada pula yang berhenti sejenak untuk meregangkan tubuh.
Tidak ada seragam resmi. Tidak ada jarak sosial. Yang ada hanyalah warga dengan tujuan yang sama: menjaga tubuh tetap bergerak dan pikiran tetap ringan.
Di sudut lintasan, pedagang kecil mulai membuka lapak sederhana. Di sisi lain, beberapa orang duduk beristirahat, mengobrol singkat, atau sekadar menikmati udara pagi. Stadion Bima, dalam momen seperti ini, bukan sekadar fasilitas olahraga—ia berubah menjadi ruang temu sosial.
Bagi sebagian warga, datang ke Stadion Bima bukan soal mengejar target jarak atau kecepatan. Ini adalah rutinitas yang memberi struktur pada pagi hari. Sebuah jeda sebelum kembali ke urusan pekerjaan, keluarga, dan kesibukan kota.
Fenomena ini menunjukkan satu hal penting: olahraga di ruang publik tidak selalu tentang prestasi. Ia tentang akses, kebiasaan, dan rasa memiliki terhadap kota. Stadion yang terbuka dan digunakan bersama memberi kesempatan yang sama bagi siapa pun—tanpa biaya, tanpa sekat.
Di tengah kehidupan urban yang semakin padat, ruang seperti Stadion Bima memainkan peran sunyi namun vital. Ia membantu warga tetap sehat, tetap terhubung, dan tetap merasa menjadi bagian dari Cirebon yang hidup.
Catatan Redaksi:
Foto ini merekam aktivitas olahraga pagi warga di kawasan Stadion Bima, Cirebon—sebuah potret sederhana tentang ruang publik dan kehidupan sehari-hari.