Tentang Sampah dan Ruang yang Kita Gunakan Bersama

Di salah satu sudut kota Cirebon, tumpukan kantong sampah terlihat mengendap di bawah rindangnya pepohonan. Daun-daun kering berserakan, plastik tercampur sisa aktivitas harian, dan ruang yang seharusnya menjadi bagian dari lingkungan bersama berubah menjadi tempat singgah sementara bagi limbah.

Tidak ada penanda resmi. Tidak ada keterangan waktu. Sampah-sampah itu hanya ada—menunggu diangkut, menunggu dipindahkan, atau mungkin menunggu diperhatikan.

Pemandangan seperti ini bukan hal asing di kota-kota yang terus bergerak. Aktivitas warga berjalan cepat, ruang publik digunakan bersama, dan dalam prosesnya, ada bagian-bagian kota yang luput dari perhatian. Bukan karena niat buruk, melainkan karena kebiasaan yang terbentuk pelan-pelan.

Sampah di sudut kota sering kali bukan soal siapa yang salah, tetapi soal bagaimana ruang digunakan dan dipahami. Ketika satu titik dianggap “aman” untuk meletakkan sesuatu, kebiasaan itu bisa berulang, lalu dianggap wajar.

Foto ini tidak sedang menunjuk atau menuding. Ia hanya merekam satu potongan realitas: bahwa di tengah kesibukan kota, masih ada ruang yang membutuhkan perhatian bersama. Bukan dengan kemarahan, melainkan dengan kesadaran.

Kota yang bersih bukan hanya hasil kerja satu pihak, tetapi hasil dari banyak keputusan kecil yang dilakukan—atau tidak dilakukan—setiap hari.


Catatan Redaksi:
Tulisan ini merupakan bagian dari rubrik Denyut Warga, yang merekam kondisi ruang publik dan keseharian kota Cirebon tanpa menyudutkan pihak tertentu.