Pagi belum benar-benar ramai ketika tangan itu mulai bekerja pelan. Di bawah atap sederhana, seorang perempuan menata bunga tabur dengan ketelatenan yang nyaris hening. Melati putih, mawar merah, dan kenanga berwarna kuning dirapikan satu per satu, disusun bukan sekadar untuk dijual, tetapi untuk memenuhi kebutuhan batin banyak orang.
Di Jalan Drajat, Cirebon, lapak kecil bunga tabur ini menjadi bagian dari denyut kota yang jarang disorot. Setiap hari, pembelinya datang dari berbagai arah—ada yang hendak berziarah, ada yang membawa hajat keluarga, ada pula yang sekadar menjaga tradisi agar tak putus oleh zaman.
Bunga tabur bukan sekadar komoditas. Ia membawa makna: penghormatan, doa, dan ingatan. Setiap genggamannya menyimpan perasaan yang tidak selalu terucap. Karena itu, proses meraciknya pun dilakukan dengan kesabaran, seolah sang penjual paham bahwa bunga-bunga ini akan menjadi perantara antara yang hidup dan yang telah pergi.
Di tengah lalu lintas dan deru kendaraan, lapak ini berdiri tenang. Botol air mineral, timbangan sederhana, dan wadah plastik besar menjadi saksi bagaimana ekonomi kecil dan tradisi lama saling menopang. Tak ada spanduk besar, tak ada teriakan menawarkan dagangan. Yang ada hanyalah kehadiran—konsisten, sabar, dan setia pada peran kecilnya dalam kehidupan kota.
Cirebon tumbuh dan berubah. Namun di sudut-sudut seperti inilah, kita bisa melihat bagaimana tradisi tetap bernafas. Bukan lewat upacara besar, melainkan melalui tangan-tangan sederhana yang bekerja setiap hari, menjaga agar makna tidak ikut hilang bersama waktu.
Catatan Redaksi:
Artikel ini merupakan bagian dari rubrik Denyut Warga, yang merekam aktivitas keseharian masyarakat Cirebon dan tradisi yang terus hidup di ruang-ruang sederhana kota.