Kereta Kecil yang Berputar, Malam yang Terus Hidup

Di dalam bangunan pasar yang diterangi lampu putih, sebuah kereta kecil berwarna cerah berputar perlahan di atas rel melingkar. Musik anak-anak terdengar samar, bercampur dengan suara pedagang dan langkah kaki pengunjung. Tidak ada sorak besar, tidak ada panggung megah—namun ruang ini hidup.

Wahana sederhana seperti ini menjadi penanda bahwa pasar bukan hanya tempat jual beli, tetapi juga ruang singgah emosi. Anak-anak tertawa, orang tua menunggu sambil mengawasi, pedagang tetap berjualan. Segalanya berjalan bersamaan, tanpa harus saling mengalahkan.

Kereta ini tidak membawa penumpangnya jauh. Ia hanya berputar di lintasan pendek, kembali ke titik semula. Namun justru di situlah maknanya. Hiburan rakyat tidak selalu tentang tujuan, melainkan tentang pengalaman kecil yang berulang, tentang jeda di tengah rutinitas.

Di wilayah penyangga seperti Kuningan—yang denyutnya kerap bersinggungan dengan Cirebon—ruang-ruang seperti ini menjadi bagian dari ekosistem sosial bersama. Pasar, wahana anak, dan pedagang kecil menyatu dalam satu siklus malam yang akrab dan sederhana.

Tidak semua kenangan tumbuh di taman kota atau pusat perbelanjaan besar. Sebagian justru lahir di sudut pasar, di rel kecil yang berputar, di tawa singkat sebelum pulang.


Catatan Redaksi:
Foto ini diambil di wilayah Kuningan, sebagai bagian dari dokumentasi ruang hidup dan aktivitas warga di kawasan Ciayumajakuning yang memiliki keterhubungan langsung dengan keseharian masyarakat Cirebon.