Pepes Ayam dan Jamur: Rasa Cirebon yang Bertahan di Bara Arang

Di Cirebon, rasa tidak lahir dari dapur tertutup. Ia tumbuh di pinggir jalan, di bawah pohon tua, di atas bara arang yang menyala pelan. Pepes ayam dan pepes jamur—dibungkus daun pisang, dipanggang tanpa tergesa—adalah salah satu bentuk paling jujur dari cara warga Cirebon merawat selera dan ingatan.

Daun pisang yang menghitam bukan sekadar pembungkus. Ia adalah identitas. Aroma gosongnya menyatu dengan bumbu khas pesisir: bawang, ketumbar, cabai, dan sentuhan gurih yang tidak berisik. Pada pepes ayam, bumbu meresap dalam—hangat, padat, dan mengenyangkan. Pada pepes jamur, rasa menjadi lebih hening—ringan, bersih, seperti jeda di antara hiruk pikuk kota pelabuhan.

Di lapak-lapak sederhana Cirebon, pepes bukan sekadar makanan murah. Ia adalah psikologi warga. Ada ketenangan dalam menunggu pepes matang, dalam melihat penjual membalik bungkusan satu per satu dengan tangan telanjang yang sudah terbiasa panas. Proses ini memberi rasa aman: bahwa makanan dibuat dengan waktu, bukan tergesa oleh pesanan.

Bagi warga Cirebon, pepes juga soal keseimbangan. Ayam untuk tenaga, jamur untuk kesadaran. Yang satu menguatkan badan, yang lain menenangkan pikiran. Keduanya hadir berdampingan, seperti cara orang Cirebon menjalani hidup—tidak ekstrem, tidak berlebihan, tapi pas.

Di tengah kota yang terus berubah, pepes ayam dan jamur tetap bertahan sebagai jangkar rasa. Ia tidak butuh nama besar, tidak perlu kemasan modern. Cukup daun pisang, bara arang, dan pengetahuan yang diwariskan diam-diam dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Dan mungkin di situlah roh Cirebon berada: pada makanan yang sederhana, dibuat dengan sabar, dimakan tanpa ribut—namun selalu meninggalkan rasa pulang.