Matahari sudah tinggi ketika lelaki itu melangkah di antara batang-batang padi yang menguning.
Tanah sawah terasa kering di bawah kakinya. Di sekelilingnya, hamparan padi yang baru dipanen terbentang seperti karpet emas yang perlahan berubah menjadi jerami. Udara siang membawa bau khas batang padi yang dipotong—aroma yang akrab bagi siapa saja yang pernah tumbuh di desa-desa sekitar Cirebon.
Ia berjalan pelan, memeriksa sisa rumpun yang belum dipotong.
Topi dan kain yang menutupi kepalanya melindungi dari panas yang mulai menyengat. Sesekali ia menunduk, menarik batang padi yang tertinggal, lalu melemparkannya ke tumpukan kecil di samping jalur panen.
Di kejauhan, tembok bangunan berdiri memisahkan sawah dari permukiman. Di baliknya, kehidupan kota terus bergerak—kendaraan lewat, warung buka, dan orang-orang beraktivitas seperti biasa.
Namun di petak sawah ini, ritmenya berbeda.
Panen selalu menjadi momen yang sunyi namun penuh makna. Setelah berbulan-bulan menunggu, merawat, dan menghadapi cuaca yang tak selalu bisa ditebak, akhirnya padi-padi itu kembali ke tangan manusia.
Di wilayah sekitar Cirebon, sawah-sawah seperti ini telah lama menjadi bagian dari lanskap kehidupan. Di antara jalur pantura yang sibuk dan pasar-pasar yang ramai, masih ada ruang tempat musim tetap menentukan waktu.
Bulir padi yang dipanen hari ini kelak akan menjadi nasi di meja makan.
Mungkin di rumah petani itu sendiri.
Mungkin juga di dapur-dapur kota.
Karena pada akhirnya, di balik setiap sepiring nasi yang sederhana, selalu ada kerja panjang yang dimulai dari tanah.