Ritme Nasi Kuning di Pinggir Jalan

Pagi baru saja bergerak ketika wajan besar itu mulai panas.

Di dalam gerobak kecil yang dicat putih, api kompor menyala pelan di bawah wajan hitam yang sudah lama dipakai. Bau minyak panas bercampur dengan aroma bumbu yang perlahan memenuhi udara. Dari balik kaca gerobak, tumpukan piring, panci nasi, dan wadah lauk tersusun rapat seperti perlengkapan kecil sebuah dapur yang berjalan.

Tulisan besar di kaca depan berbunyi sederhana: Nasi Kuning & Gorengan.

Seorang penjual berdiri di baliknya, menyiapkan dagangan pagi. Sendok logam menyentuh panci, plastik dibuka, dan nasi kuning yang hangat mulai dibungkus satu per satu.

Di kota seperti Cirebon, gerobak makanan sering menjadi bagian dari lanskap jalanan.

Mereka berdiri di sudut trotoar, di dekat gang, atau di bawah rindang pohon. Tidak selalu mencolok, tetapi hampir selalu ada orang yang datang menghampiri.

Seorang pekerja berhenti sebentar sebelum berangkat kerja.
Seorang ibu membeli sarapan untuk anak-anaknya di rumah.
Ada pula yang hanya ingin secangkir teh hangat dan gorengan di pagi hari.

Gerobak kecil seperti ini menyimpan ritme kota yang sederhana.

Dari dapur sempit di balik kaca, nasi kuning hangat berpindah tangan, lalu dibawa pulang ke meja makan yang berbeda-beda. Pagi bergerak pelan, dan jalanan mulai ramai.

Di antara semua itu, penjual di balik gerobak tetap berdiri di tempatnya.

Menjaga satu tradisi kecil kota: sarapan yang sederhana, namun selalu dicari.