Pagi di pesisir Cirebon tidak lagi selalu sama seperti dulu. Di beberapa kampung dekat laut, air kini lebih sering datang tanpa benar-benar diundang. Kadang perlahan, merembes lewat sela jalan dan halaman rumah. Kadang datang bersama hujan besar dan angin yang membuat langit terasa lebih rendah dari biasanya.
Bagi warga yang tinggal di kawasan pesisir, perubahan itu tidak perlu dijelaskan lewat grafik atau angka statistik. Mereka merasakannya langsung—pada banjir yang datang lebih sering, pada garis pantai yang perlahan berubah, dan pada cuaca yang semakin sulit ditebak.
Di Kota Cirebon, isu perubahan iklim bukan lagi sesuatu yang terasa jauh. Ia hadir dalam bentuk yang sangat nyata: rob di kawasan pesisir, hujan ekstrem yang membuat drainase kewalahan, suhu udara yang terasa lebih panas, hingga abrasi yang perlahan menggerus bibir pantai.
Kota pesisir seperti Cirebon memang berada di posisi yang rentan. Laut yang sejak lama menjadi sumber kehidupan kini juga membawa ancaman baru ketika permukaan air terus naik dan cuaca menjadi semakin ekstrem.
Di beberapa titik pesisir Kabupaten dan Kota Cirebon, warga mulai terbiasa meninggikan lantai rumah sedikit demi sedikit. Ada yang membuat tanggul sederhana di depan rumah, ada pula yang harus lebih sering memperbaiki dinding karena lembap dan air asin.
Namun perubahan iklim tidak hanya berdampak pada wilayah pantai.
Di pusat kota, hujan deras dalam durasi singkat kini lebih mudah menyebabkan genangan. Jalan yang biasanya ramai mendadak melambat karena air naik cepat di beberapa ruas. Aktivitas pasar terganggu, kendaraan tersendat, dan pedagang kecil menjadi salah satu kelompok yang paling merasakan dampaknya.
Perubahan cuaca juga mulai memengaruhi kehidupan nelayan dan petani di wilayah Cirebon. Musim yang dulu relatif mudah diprediksi kini terasa lebih berubah-ubah. Angin laut lebih sulit dibaca. Hasil tangkapan kadang menurun karena cuaca buruk mempersingkat waktu melaut.
Di tengah situasi seperti itu, istilah adaptasi dan mitigasi perubahan iklim mulai semakin sering dibicarakan. Namun bagi banyak warga, makna sebenarnya sangat sederhana: bagaimana cara bertahan dan menjaga kota agar tetap layak dihuni di masa depan.
Adaptasi berarti menyesuaikan diri dengan perubahan yang sudah terjadi. Di Cirebon, bentuknya bisa berupa perbaikan drainase kota, penataan kawasan pesisir, penanaman mangrove untuk menahan abrasi, hingga pembangunan ruang terbuka hijau agar suhu kota tidak semakin panas.
Sementara mitigasi berbicara tentang upaya mengurangi dampak yang lebih besar di masa depan—mulai dari pengurangan emisi, pengelolaan sampah yang lebih baik, hingga transportasi yang lebih ramah lingkungan.
Namun di balik semua kebijakan itu, ada satu hal penting yang sering terlupakan: perubahan iklim selalu paling terasa bagi masyarakat kecil.
Bagi pedagang pasar yang dagangannya rusak karena banjir. Bagi nelayan yang tidak bisa melaut karena cuaca buruk.
Bagi warga pesisir yang harus tidur dengan cemas ketika hujan turun terlalu lama.
Karena itu, pembicaraan tentang iklim seharusnya tidak berhenti pada seminar atau dokumen kebijakan. Ia perlu hadir dekat dengan kehidupan warga sehari-hari.
Cirebon sendiri punya modal sosial yang kuat untuk menghadapi perubahan ini. Kota ini sejak lama hidup dari kemampuan beradaptasi—sebagai kota pelabuhan, kota perdagangan, sekaligus kota budaya yang terbiasa menghadapi perubahan zaman.
Di kampung-kampung pesisir, warga masih saling membantu ketika air naik. Di pasar-pasar, pedagang tetap membuka lapak meski cuaca tidak menentu. Ada ketangguhan sosial yang tumbuh dari kebiasaan hidup bersama.
Tetapi ketangguhan saja tidak cukup jika perubahan iklim terus bergerak lebih cepat daripada kesiapan kota.
Mungkin itu sebabnya isu lingkungan kini bukan lagi sekadar urusan aktivis atau pemerintah. Ia sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari warga Cirebon.
Tentang bagaimana menjaga laut tetap bersahabat. Bagaimana membuat kota tetap sejuk dan aman. Dan bagaimana memastikan anak-anak yang tumbuh hari ini masih bisa mengenal angin pesisir Cirebon tanpa harus hidup dalam kecemasan akan air yang terus naik semakin dekat.