Aroma kayu dan makanan hangat menyambut dari balik ruang terbuka itu. Atap bambu membentang di atas meja-meja panjang, sementara dinding bata merah dan sebuah lengkungan besar bertuliskan PABRIK KETAN menjadi latar yang langsung mencuri perhatian. Di salah satu sudut, keluarga duduk bersama. Seorang anak kecil memandang sekeliling, sementara percakapan orang dewasa mengalir santai seperti sore yang tak sedang diburu waktu.
Tempat itu bernama KambasTable.
Di tengah Cirebon yang akrab dengan nasi jamblang, empal gentong, tahu gejrot, dan ragam kuliner pesisir lainnya, ketan menemukan jalannya sendiri. Bukan sekadar sebagai jajanan pasar atau makanan pelengkap, tetapi sebagai bahan utama yang diberi ruang untuk tampil lebih besar.
Nama Pabrik Ketan di dinding seolah menjelaskan gagasan di balik tempat ini. Ada upaya mengangkat sesuatu yang sederhana, yang akrab dengan ingatan banyak orang, lalu mengolahnya menjadi pengalaman makan yang lebih luas. Ketan yang selama ini hadir dalam berbagai bentuk—manis, gurih, tradisional, hingga jajanan rumahan—di sini menjadi pusat cerita.
Suasana KambasTable pun terasa berbeda dari tempat makan yang dibangun hanya untuk menjadi ramai. Material kayu, bata, bambu, dan ruang terbuka menciptakan kesan hangat. Tidak terlalu mewah, tetapi cukup untuk membuat orang ingin duduk lebih lama.
Di meja-meja itulah makanan kembali menjalankan fungsi paling tuanya: mempertemukan orang.
Bagi Cirebon, makanan memang tak pernah hanya soal rasa. Kota pesisir ini tumbuh dari pertemuan banyak budaya, dan dapurnya ikut menyimpan jejak perjumpaan itu. Ada tradisi keraton, pengaruh pesisir, perdagangan, hingga kebiasaan masyarakat kampung yang semuanya perlahan masuk ke dalam cara orang Cirebon memasak dan makan.
Mungkin itulah yang menarik dari kehadiran tempat seperti KambasTable. Ia mengambil bahan yang sangat sederhana, lalu memberinya panggung baru tanpa harus memutus hubungan dengan akar rasa yang sudah lama hidup di masyarakat.
Di bawah atap bambu itu, pabrik tidak menghasilkan mesin atau barang-barang industri.
Ia menghasilkan aroma, rasa, dan alasan bagi orang-orang untuk duduk bersama.
Dan di kota seperti Cirebon, kadang-kadang memang itu yang paling penting.