Gerobak kayu itu tak pernah benar-benar diam. Roda besinya meninggalkan jejak tipis di tanah basah, berpindah dari satu sudut ke sudut lain, mengikuti denyut pagi Kota Cirebon. Di balik papan merah yang mulai kusam, docang disiapkan dengan gerakan yang sudah hafal di luar kepala—tenang, cepat, tanpa banyak kata.
Docang bukan sekadar makanan. Ia adalah ingatan kolektif. Campuran lontong, daun singkong, tauge, parutan kelapa, dan siraman kuah oncom hangat ini menyimpan rasa yang tidak mencari sensasi, tapi kejujuran. Rasanya sederhana, tapi penuh. Mengenyangkan tubuh sekaligus menenangkan pikiran.
Di kawasan Bima, docang hadir sebagai rutinitas yang setia. Ia menunggu orang-orang yang berangkat kerja, ibu-ibu yang singgah sejenak, atau siapa pun yang rindu sarapan tanpa formalitas. Tidak ada meja mewah, tidak ada musik latar—hanya suara sendok, bungkusan kertas, dan obrolan pendek yang akrab.
Gerobak ini adalah simbol ekonomi kecil yang bertahan dengan cara besar: konsistensi. Setiap pagi, resepnya sama. Setiap hari, rasanya dijaga. Di tengah perubahan kota, docang memilih setia pada dirinya sendiri.
Di saat banyak hal bergerak cepat dan ingin terlihat baru, docang justru bertahan dengan menjadi lama—dalam arti yang paling baik. Ia tidak tergesa mengikuti zaman, karena tahu bahwa yang dicari orang bukan tren, melainkan rasa pulang.
Dan selama roda gerobak itu masih berputar, docang akan terus hadir. Mengingatkan kita bahwa kota bukan hanya dibangun oleh gedung dan jalan, tapi oleh hal-hal kecil yang setia mengulang dirinya.
Catatan Redaksi:
Artikel ini merupakan bagian dari dokumentasi kuliner tradisional Cirebon yang hidup di ruang-ruang keseharian warga. Penulisan berfokus pada nilai budaya dan keberlanjutan praktik kuliner lokal.