Di Cirebon, pagi selalu dimulai dengan gerak. Warung dibuka. Toko bangunan menaikkan rolling door. Pedagang kuliner menyalakan kompor. Di sela aktivitas itu, satu hal kini selalu hadir: layar ponsel.
Pesanan masuk lewat WhatsApp. Transfer lewat mobile banking. Promosi lewat media sosial. UMKM di kota ini tak lagi berdiri hanya di atas etalase kayu—mereka berdiri di atas jaringan internet.
Dan di sanalah masalahnya bermula.
Ancaman hari ini tidak lagi berwujud pencurian fisik. Ia tidak merusak gembok, tidak memecahkan kaca. Ia hanya meminta satu hal sederhana: klik.
Satu tautan.
Satu kode OTP.
Satu kelengahan.
Dalam hitungan menit, akun bisa hilang. Nomor bisnis tak bisa diakses. Saldo digital terkuras. Bagi perusahaan besar, itu mungkin gangguan sistem. Bagi pelaku UMKM di Cirebon, itu bisa berarti berhentinya dapur mengepul.
Digitalisasi memberi peluang. Tapi ia juga membuka pintu yang tak selalu dijaga.
Banyak pelaku usaha sudah fasih menjual secara online. Namun belum semua memahami bagaimana melindungi diri di ruang yang sama. Kata sandi yang sama dipakai di banyak akun. Email jarang diperiksa keamanannya. Tautan promosi diklik tanpa verifikasi.
Padahal di era ini, keamanan bukan urusan teknis. Ia urusan bertahan hidup.
Cirebon adalah kota perdagangan. Sejak dahulu, kota ini tumbuh dari pertemuan jalur—laut, darat, budaya, dan kini digital. Setiap zaman membawa tantangannya sendiri. Dahulu kapal dan badai. Kini data dan peretasan.
Ancaman siber tidak bersuara. Ia tidak memberi tanda. Ia hadir seperti kabut tipis: tak terlihat, tapi perlahan menutup pandangan.
Maka yang dibutuhkan bukan ketakutan, melainkan kesadaran. Kesadaran bahwa menjaga akun sama pentingnya dengan menjaga kasir. Kesadaran bahwa tidak membagikan kode OTP sama pentingnya dengan tidak menyerahkan kunci toko pada orang asing. Kesadaran bahwa literasi digital adalah bentuk pertahanan baru warga kota.
Cirebon sedang belajar. Dan belajar selalu dimulai dari kesadaran kecil. Karena di balik layar yang menyala setiap pagi, ada kehidupan yang dipertaruhkan. Dan kehidupan, sekecil apa pun, layak dijaga.