Pagi belum sepenuhnya bising ketika seorang petugas kebersihan berjongkok di tepi trotoar. Seragam hijaunya menyatu dengan warna dedaunan yang basah, sementara roda kendaraan mulai bergerak perlahan di latar belakang. Di sampingnya, gerobak sampah dan sapu berdiri diam—menjadi saksi dari pekerjaan yang jarang disorot, namun selalu dibutuhkan.
Di kota seperti Cirebon, kebersihan bukan sekadar urusan estetika. Ia adalah fondasi dari ritme harian: pejalan kaki yang melintas aman, pesepeda yang tak perlu menghindari genangan, pengendara yang bergerak tanpa terganggu sisa-sisa malam. Semua dimulai dari kerja-kerja sunyi di pagi hari, jauh sebelum kota benar-benar terjaga.
Foto ini menangkap satu momen kecil dalam denyut besar kehidupan kota. Seorang pekerja berhenti sejenak, mungkin mengatur napas, mungkin memastikan sudut jalan benar-benar bersih. Di balik gerak sederhana itu, tersimpan tanggung jawab yang besar—menjaga ruang bersama tetap layak dihuni.
Cirebon tumbuh dari interaksi banyak peran. Ada yang terlihat di etalase toko, ada yang terdengar di klakson jalanan, dan ada pula yang hadir dalam diam. Mereka yang bekerja di pinggir jalan ini adalah bagian dari denyut itu—mengalirkan keteraturan agar kota bisa terus bergerak.
Catatan Redaksi:
Artikel ini disusun sebagai bagian dari dokumentasi visual kehidupan kota, untuk merekam peran-peran sederhana yang kerap luput dari perhatian, namun menentukan wajah Cirebon setiap harinya