Lubang Jalan di Tengah Kota: Tanda Peringatan yang Datang Terlambat

Pagi itu lalu lintas tampak berjalan seperti biasa. Sepeda motor melintas satu per satu, sebagian melambat, sebagian lagi tetap melaju tanpa banyak curiga. Di tengah ruas jalan, sebuah pembatas darurat berdiri—sederhana, mencolok, namun menyimpan pesan yang tak boleh diabaikan: ada lubang di badan jalan, dan ia berbahaya.

Lubang itu bukan sekadar kerusakan kecil. Ia berada di titik yang kerap dilalui kendaraan, tepat di jalur yang memaksa pengendara bermanuver. Bagi pengendara motor, satu detik lengah saja bisa berujung celaka. Terlebih saat hujan, ketika genangan air menutupi bentuk aslinya dan menjadikannya jebakan yang nyaris tak terlihat.

Pembatas jalan yang dipasang menunjukkan adanya upaya pencegahan. Namun, ia juga menjadi penanda lain: bahwa kerusakan ini sudah cukup lama hingga warga atau pihak terkait merasa perlu memberi tanda darurat. Jalan, yang seharusnya menjadi ruang aman untuk bergerak, berubah menjadi ruang waspada yang menuntut perhatian ekstra.

Di kota seperti Cirebon—di mana mobilitas harian warga sangat bergantung pada sepeda motor—jalan berlubang bukan sekadar soal infrastruktur. Ia menyangkut keselamatan, ritme hidup, dan rasa aman. Setiap lubang yang dibiarkan terlalu lama adalah risiko yang dibagi bersama oleh semua pengguna jalan.

Foto ini merekam lebih dari sekadar kondisi fisik jalan. Ia menangkap pertemuan antara aktivitas warga, alam yang tenang di sekitarnya, dan ancaman kecil yang bisa berdampak besar. Sebuah potret keseharian kota, di mana kewaspadaan sering kali lahir bukan dari rambu resmi, melainkan dari tanda-tanda darurat yang seadanya.


Catatan Redaksi:
Artikel ini disusun sebagai bagian dari rubrik Denyut Warga, merekam kondisi keseharian dan isu keselamatan publik yang ditemui langsung di ruang hidup warga Cirebon