Ramadan di Cirebon tidak pernah datang dengan gegap gempita yang meledak-ledak. Ia datang pelan, seperti angin laut yang berembus dari utara, menyentuh kota ini tanpa suara, tetapi terasa.
Beberapa hari sebelum bulan suci tiba, ritme kota mulai berubah. Pasar Kanoman dan Jagasatru lebih ramai dari biasanya. Warga berbelanja bahan pokok, kurma, sirup, dan perlengkapan ibadah. Penjual kolak mulai menyiapkan lapak lebih awal. Pedagang takjil mulai menghitung titik strategis di pinggir jalan.
Di sudut lain, masjid-masjid dibersihkan. Karpet digelar ulang. Lampu-lampu diperiksa. Di kampung-kampung, anak-anak mulai berlatih memukul bedug. Ada rasa yang sama setiap tahun: penantian.
Cirebon adalah kota yang lahir dari pertemuan budaya—Jawa, Sunda, Arab, Tionghoa. Dalam Ramadan, semua pertemuan itu seperti menemukan simpulnya. Di Keraton Kasepuhan dan Kanoman, tradisi keagamaan mengingatkan bahwa Islam di kota ini tidak hanya soal ibadah pribadi, tetapi juga warisan sejarah.
Sementara itu, kehidupan sehari-hari tetap berjalan. Nelayan tetap melaut. Pedagang tetap membuka toko. Sopir angkot tetap menarik setirnya. Namun ada yang berubah: nada suara menjadi lebih lembut, langkah terasa sedikit lebih pelan.
Menjelang magrib, jalanan dipenuhi aroma gorengan dan kuah santan. Es campur, kolak pisang, bubur sumsum, hingga empal gentong yang hangat menjadi penanda bahwa berbuka bukan sekadar mengisi perut—tetapi merayakan kebersamaan.
Di meja-meja sederhana, keluarga berkumpul. Di masjid, saf-saf mulai terisi. Di teras rumah, obrolan ringan mengalir sambil menunggu waktu isya dan tarawih.
Ramadan di Cirebon bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga. Ia adalah jeda. Jeda dari kebisingan. Jeda dari amarah. Jeda dari ambisi yang sering terlalu keras.
Bulan ini mengingatkan bahwa kota, seberapa pun sibuknya, tetap memiliki ruang hening.
Di tengah arus modernisasi, pusat perbelanjaan, dan lalu lintas yang tak pernah benar-benar tidur, Ramadan mengajarkan satu hal sederhana: kembali.
Kembali pada doa.
Kembali pada keluarga.
Kembali pada diri sendiri.
Dan ketika malam-malam terakhir tiba, ketika takbir mulai menggema, Cirebon seperti menarik napas panjang. Satu bulan telah dilewati. Satu perjalanan batin telah ditempuh.
Ramadan selalu pergi. Tetapi jejaknya, jika dijaga, akan tinggal lebih lama dari sekadar satu bulan.
Di kota pesisir ini, setiap tahun, Ramadan bukan hanya peristiwa kalender. Ia adalah musim batin—yang selalu ditunggu, selalu dirindukan, dan selalu membawa harapan baru.