Cahaya matahari sore jatuh miring di sela terpal yang mulai pudar warnanya.
Di sebuah lorong pasar Cirebon, plastik-plastik bening berisi cabai kering bergoyang pelan tertiup angin. Warnanya merah tua, seperti bara yang tidak pernah benar-benar padam. Di bawahnya, bawang merah bertumpuk dalam keranjang hijau, kulitnya mengilap, menyimpan aroma tajam yang khas.
Ramadan tidak datang dengan suara keras di sini. Ia datang perlahan—melalui daftar belanja yang lebih panjang, langkah kaki yang lebih tergesa, dan wajah-wajah yang sedikit lebih serius menghitung harga.
Seorang ibu berhenti di depan gantungan cabai. Tangannya meraih satu plastik, menimbangnya tanpa timbangan. Di sampingnya, seorang anak memegang tas belanja merah yang hampir penuh. Percakapan mereka singkat, seperti rahasia kecil yang hanya dipahami dapur rumah.
Di bulan ini, pasar di Cirebon berubah ritmenya.
Pagi tetap sibuk, tetapi menjelang sore, denyutnya terasa berbeda. Ada kegelisahan yang halus—bukan karena kekurangan, tetapi karena waktu. Semua ingin pulang sebelum azan magrib. Semua ingin sampai di rumah saat langit mulai menguning di atas atap-atap seng.
Di sudut lain, pedagang menyusun ulang bawang dan telur yang mulai berkurang. Keringat mengalir di pelipisnya, bercampur dengan aroma rempah. Ramadan adalah bulan yang panjang, tetapi di pasar, ia terasa cepat. Setiap hari seperti berlari menuju magrib.
Cirebon adalah kota pesisir. Ia terbiasa dengan pergerakan—kapal datang dan pergi, orang berdagang dan pulang. Ramadan hanya mempertegas kebiasaan itu. Di bulan ini, transaksi bukan sekadar jual beli. Ia menjadi bagian dari persiapan spiritual.
Cabai untuk sambal buka puasa. Gula untuk kolak yang dimasak bersama. Santan untuk sayur yang akan dibagikan ke tetangga.
Di pasar, ibadah tidak selalu tampak dalam bentuk doa yang diucapkan keras-keras. Ia hadir dalam pilihan bahan, dalam cara orang mengatur belanja agar cukup untuk keluarga, dalam keputusan sederhana untuk tetap memasak sendiri meski waktu terbatas.
Langit semakin redup.
Beberapa pedagang mulai menyisihkan kurma atau air minum di bawah meja kayu. Mereka akan berbuka di tempat yang sama mereka berdiri sejak pagi. Di antara timbangan dan karung bawang.
Pasar tidak berhenti ketika Ramadan tiba. Ia justru menjadi lebih hidup.
Karena di lorong-lorong sempit itu, kita melihat Cirebon yang sebenarnya—kota yang berpuasa sambil tetap bekerja, yang beribadah tanpa meninggalkan pasar, yang menahan lapar sambil terus menakar rezeki.
Ramadan di Cirebon bukan perayaan yang megah.
Ia adalah gerak pelan di antara gantungan cabai, tas belanja yang berat, dan waktu yang terus berjalan menuju azan.
Dan di sana, di tengah riuh yang tidak pernah benar-benar diam, iman dan ekonomi saling menyapa tanpa perlu banyak kata.