Pagi baru saja merayap masuk ke lorong pasar ketika serpihan kelapa mulai menumpuk di atas meja kayu. Cahaya tipis menyelinap dari celah-celah atap, jatuh di atas tempurung yang terbuka, memantulkan putih daging kelapa yang segar. Udara membawa aroma khas—perpaduan santan mentah, kayu tua yang lembap, dan sisa-sisa pagi yang baru dimulai.
Seorang pemuda berdiri membungkuk di balik meja sempit itu. Kaos merahnya mencolok di antara warna-warna kusam papan kayu yang mengelilingi lapak. Di tangannya, setengah buah kelapa dipegang erat. Pisau kecil bergerak pelan namun pasti, mengikis daging kelapa dari tempurungnya.
Serpih-serpih putih jatuh satu per satu, menumpuk seperti serpihan es di atas meja yang sudah dipenuhi bekas kerja. Gerakannya tenang, hampir seperti irama. Setiap kelapa dibelah, dibersihkan, lalu disiapkan untuk tangan berikutnya—mungkin untuk diparut, diperas menjadi santan, atau dibawa pulang oleh pembeli yang datang dengan kantong plastik dari lorong pasar.
Di belakangnya, seorang lelaki yang lebih tua duduk menunduk. Pasar belum sepenuhnya ramai, tapi suara-suara kecil mulai muncul: ember yang digeser, plastik yang berkerisik, percakapan pendek antar pedagang yang sudah saling mengenal sejak lama.
Di pasar-pasar seperti ini, kelapa adalah bahan yang tak pernah sepi. Dari santan untuk sayur lodeh, kuah gulai, hingga serundeng yang harum, semuanya bermula dari buah bulat berkulit keras yang dibelah di meja-meja sederhana seperti ini.
Cirebon adalah kota pesisir yang hidup dari pertemuan—laut, pasar, dapur, dan jalanan. Banyak makanan yang dikenal dari kota ini lahir dari bahan-bahan yang disiapkan sejak pagi buta di pasar tradisional. Sebelum warung-warung membuka lapaknya, sebelum dapur rumah tangga menyalakan kompor, pekerjaan kecil seperti ini sudah berjalan lebih dulu.
Pisau kecil kembali bergerak. Tempurung kelapa diputar di tangan pemuda itu dengan cekatan. Di meja, serpihan kelapa terus bertambah.
Tak ada yang tampak istimewa dari pekerjaan ini. Tidak ada papan nama besar, tidak ada keramaian yang menyorotinya. Namun dari meja sederhana di sudut pasar inilah banyak rasa yang nanti menghangatkan meja makan di seluruh kota.
Dan ketika pasar mulai ramai, suara pisau yang mengikis kelapa itu akan tetap terdengar—pelan, tekun, seperti napas pagi yang menjaga kehidupan kota tetap berjalan.