Suatu Minggu Pagi Di Cirebon

Minggu pagi di Stadion Bima selalu punya iramanya sendiri. Tidak pernah benar-benar direncanakan, tapi selalu terjadi. Jalanan yang biasanya lengang perlahan dipenuhi langkah kaki, suara obrolan ringan, dan tenda-tenda sederhana yang berdiri rapi di sisi jalan.

Warga datang dengan tujuan yang berbeda-beda. Ada yang sekadar berjalan santai, ada yang menemani anaknya jajan, ada pula yang berhenti sejenak di lapak pakaian atau gorengan. Tidak ada agenda besar, tidak ada panggung utama. Yang ada hanyalah pertemuan-pertemuan kecil yang terasa akrab.

Lapak-lapak kaki lima menjadi denyut utama pagi itu. Penjual baju menggantung dagangan seadanya, pedagang makanan menyiapkan wajan dan kompor portable, sementara pembeli bergerak pelan, menawar, tersenyum, lalu berlalu. Aktivitas ekonomi berjalan tanpa perlu spanduk promosi atau pengeras suara.

Anak-anak terlihat bebas melangkah, sesekali menarik tangan orang tuanya. Bagi mereka, Minggu pagi bukan soal belanja atau olahraga, tapi soal ruang. Ruang untuk berjalan, melihat, dan merasa menjadi bagian dari keramaian yang aman.

Stadion Bima, di pagi seperti ini, bukan sekadar fasilitas olahraga. Ia berubah menjadi ruang sosial terbuka—tempat warga saling berbagi waktu, meski hanya sebentar. Tidak semua saling kenal, tapi tidak juga saling asing.

Ketika siang mulai mendekat dan matahari naik perlahan, satu per satu tenda akan dibongkar. Jalan kembali seperti biasa. Namun denyut itu akan tersimpan, menunggu Minggu berikutnya.

Di sanalah kehidupan warga berjalan: sederhana, berulang, dan justru karena itu terasa nyata.