Di suatu pagi di pinggir jalan di Kota Cirebon, dua orang bapak duduk berdampingan di bangku kayu. Tidak tergesa, tidak sibuk. Mereka hanya duduk, mengobrol pelan, membiarkan waktu berjalan dengan caranya sendiri.
Lalu lintas mulai ramai, tapi percakapan mereka tidak ikut cepat. Sesekali kepala menoleh, sesekali tangan bergerak ringan. Tidak jelas apa yang dibicarakan—dan memang tidak harus jelas. Yang penting, ada teman duduk dan ada pagi yang masih memberi ruang.
Di belakang mereka, papan iklan lama menempel di dinding warung kecil. Rak kayu berdiri apa adanya, botol-botol kosong tersusun rapi. Tempat ini bukan pusat keramaian, bukan pula tujuan utama. Ia hanya persinggahan kecil di kehidupan sehari-hari.
Pagi seperti ini dulu mudah ditemukan. Di banyak sudut kota, orang-orang terbiasa berhenti sejenak sebelum hari benar-benar dimulai. Duduk, berbincang, lalu melanjutkan urusan masing-masing tanpa harus berpamitan panjang.
Kini, momen-momen semacam itu terasa semakin jarang. Bukan karena hilang sepenuhnya, tapi karena kota bergerak lebih cepat. Bangku-bangku diganti, warung kecil menutup, dan pagi sering kali langsung dimulai dengan terburu-buru.
Foto ini menyimpan satu hal sederhana: kebiasaan duduk dan mengobrol tanpa agenda. Sesuatu yang mungkin terlihat sepele, tetapi perlahan menjadi kenangan.
Catatan Redaksi:
Tulisan ini merupakan bagian dari rubrik Arsip & Memori, yang merekam suasana dan kebiasaan warga Cirebon sebagai bagian dari ingatan kota Cirebon.