Hujan turun tanpa aba-aba. Aspal mengilap, lampu kendaraan memantul di genangan, dan kota melambat dengan caranya sendiri. Di tengah situasi itu, seorang tukang parkir berdiri di tepi jalan, memayungi dirinya dengan payung sederhana, sambil sesekali menunduk ke layar ponsel.
Di kakinya, ember-ember plastik tersusun seadanya. Bukan properti, bukan simbol. Hanya alat kerja yang akan kembali dipakai esok hari, entah hujan atau tidak. Tidak ada keluhan yang terdengar, tidak juga permintaan. Ia hanya berdiri di sana—hadir, berjaga, menunggu.
Tukang parkir sering kali menjadi bagian kota yang tak diperhatikan. Mereka ada di hampir setiap sudut, tapi jarang benar-benar dilihat. Padahal, dari merekalah keteraturan kecil dijaga: kendaraan masuk rapi, keluar aman, lalu lintas tak sepenuhnya semrawut.
Malam seperti ini memperlihatkan sisi lain kehidupan kota. Tidak glamor, tidak cepat. Rezeki datang satu per satu, kadang lama jedanya. Tapi tetap dijalani, tanpa banyak suara.
Payung itu bukan hanya pelindung dari hujan. Ia seperti batas tipis antara kerasnya jalan dan keteguhan seseorang yang tetap berdiri di tempatnya. Kota boleh sibuk, kendaraan boleh berlalu-lalang, tapi di titik itu, ada manusia yang sedang menjaga hidupnya tetap berjalan.
Dan seperti hujan yang akhirnya reda, ia tahu: tugasnya bukan memilih cuaca, tapi tetap ada di sana—selama dibutuhkan
Seputar Cirebon percaya bahwa kota tidak hanya dibangun oleh bangunan dan kebijakan, tetapi juga oleh orang-orang yang menjaga denyutnya tetap hidup—dalam sunyi, tanpa sorotan.
Foto ini diambil di kawasan Jalan Karanggetas, Kota Cirebon.
Di tengah hujan dan lalu lintas malam, potret ini merekam fragmen kecil kehidupan warga yang kerap luput dari perhatian.