Pasar Kalitanjung: Pagi yang Selalu Kembali

Pagi di Pasar Kalitanjung tidak pernah benar-benar dimulai dengan bunyi jam. Ia dimulai oleh langkah kaki yang saling bersilang, derit roda becak yang menepi, dan suara tawar-menawar yang mengalir tanpa aba-aba. Di lorong-lorong sempit pasar ini, waktu bergerak dengan caranya sendiri—pelan, berulang, dan nyaris tak berubah sejak puluhan tahun lalu.

Lapak-lapak berdiri rapat, beratap seng yang menua bersama musim. Di antaranya, manusia bergerak sebagai arus utama: ibu-ibu dengan tas belanja di tangan, pedagang yang menata dagangan sambil setengah mengingat pesanan kemarin, hingga penarik becak yang menunggu giliran rezeki sambil membaca wajah pagi. Tidak ada pusat perhatian tunggal di sini. Setiap sudut adalah cerita.

Pasar Kalitanjung bukan sekadar ruang transaksi. Ia adalah simpul ingatan. Banyak warga Cirebon mengenalnya sejak kecil—ikut orang tua berbelanja, belajar menghitung uang kembalian, atau sekadar menghafal aroma pasar: campuran tanah basah, sayur segar, dan asap dapur kecil. Ingatan-ingatan itu melekat, bahkan ketika kota di sekitarnya berubah.

Di tengah deru sepeda motor dan padatnya aktivitas, pasar ini bertahan dengan logika lama: saling mengenal, saling percaya. Harga bisa dinegosiasikan, waktu bisa dilonggarkan. Di sini, ekonomi tidak hanya diukur dari angka, tetapi dari hubungan yang dirawat hari demi hari.

Bagi kota, Pasar Kalitanjung adalah denyut yang konsisten. Ia menyimpan ritme kehidupan yang sering luput dari perencanaan modern, namun justru menjadi fondasi keberlanjutan sosial. Ketika banyak hal bergerak cepat dan mudah tergantikan, pasar ini mengingatkan bahwa ada ruang-ruang yang hidup justru karena kesetiaannya pada keseharian.

Pagi akan usai, lapak akan sepi perlahan. Namun esok, semuanya kembali. Langkah yang sama, suara yang mirip, cerita yang berlanjut. Pasar Kalitanjung tidak menuntut untuk dikenang—ia hanya terus ada, dan karena itu menjadi ingatan kolektif kota.


Catatan Redaksi:
Artikel ini merupakan bagian dari rubrik Arsip & Memori, yang merekam ruang-ruang keseharian Cirebon sebagai jejak ingatan sosial dan denyut hidup warga dari waktu ke waktu.