Pasar yang Menghangat Menjelang Lebaran

Pagi di pasar itu datang bersama suara yang berlapis-lapis.

Motor lewat perlahan di sela lapak. Pedagang memanggil pembeli dengan nada yang sudah akrab di telinga warga. Plastik berkeresek, pisau memotong daun pisang, dan obrolan singkat tentang harga bahan dapur bercampur menjadi satu irama.

Di sebuah meja kayu, seorang perempuan membungkus makanan dengan daun pisang yang masih segar. Tangannya bergerak cepat, melipat, menekan, lalu mengikat. Di depannya, pembeli menunggu sambil memegang kantong plastik yang mulai penuh.

Di sisi lain pasar, orang-orang datang dan pergi tanpa henti.

Ada yang mencari bumbu dapur.
Ada yang membeli lauk untuk esok hari.
Ada pula yang sekadar berkeliling, memastikan semua kebutuhan Lebaran sudah siap di rumah.

Menjelang Idul Fitri, pasar-pasar di Cirebon selalu berubah menjadi lebih hidup.

Lorong-lorong yang biasanya sudah ramai kini terasa semakin padat. Pedagang menambah stok dagangan, sementara pembeli datang sejak pagi dengan daftar belanja yang panjang di kepala mereka.

Di kota pesisir seperti Cirebon, pasar bukan hanya tempat transaksi.

Ia adalah ruang pertemuan.

Tempat orang bertukar kabar, menawar harga, dan merasakan denyut kehidupan kota yang sesungguhnya.

Aroma daun pisang, sayuran segar, dan masakan yang baru matang bercampur di udara pagi. Di antara keramaian itu, wajah-wajah warga tampak sibuk namun hangat.

Karena di balik semua kesibukan ini, ada satu tujuan yang sama.

Menyiapkan rumah.

Untuk hari ketika pintu-pintu akan terbuka, tamu datang silih berganti, dan kota kecil ini kembali dipenuhi cerita Lebaran.