Air itu tidak mengalir deras. Ia hanya diam, tenang, memantulkan batang pohon, langit yang tertutup daun, dan sisa-sisa hari yang berlalu tanpa suara. Di sudut ruang kota ini, sebuah saluran air kecil menjadi saksi: tentang bagaimana kota bernapas, atau justru menahan napasnya sendiri.
Rumput liar tumbuh perlahan di tepi parit, akarnya merambat mengikuti kelembapan yang menetap. Daun gugur mengapung, sebagian terjebak, sebagian tenggelam. Tidak ada yang tampak dramatis—justru di situlah ceritanya berada. Kota tidak selalu rusak dengan ledakan; kadang ia aus secara perlahan, nyaris tak terasa.
Saluran air seperti ini bukan sekadar urusan teknis drainase. Ia adalah indikator hubungan warga dengan ruang hidupnya. Saat air berhenti mengalir, biasanya bukan hanya lumpur yang menumpuk, tetapi juga perhatian yang teralihkan. Padahal, dari parit kecil inilah banjir besar sering bermula, dari hal-hal yang dianggap sepele.
Di siang hari, tempat ini mungkin hanya tampak sebagai sudut taman yang terlupakan. Namun ketika hujan turun dan air mencari jalan, barulah kita sadar: kota selalu menyimpan ingatan. Ia mencatat apa yang kita rawat, dan apa yang kita biarkan.
Cirebon tumbuh cepat. Jalan bertambah, bangunan naik, aktivitas kian padat. Tapi pertumbuhan kota bukan hanya soal yang terlihat dari atas—ia juga ditentukan oleh hal-hal sunyi di bawah: saluran air, akar pohon, tanah yang menyerap, dan ruang kecil yang diberi kesempatan untuk tetap hidup.
Air yang diam ini seperti jeda. Sebuah pertanyaan terbuka tentang perhatian, perawatan, dan pilihan-pilihan kecil yang menentukan wajah kota di masa depan.
Catatan Redaksi:
Artikel ini disusun sebagai bagian dari dokumentasi ruang-ruang kecil kota Cirebon yang kerap luput dari perhatian, namun memiliki peran penting dalam keseimbangan lingkungan dan kehidupan sehari-hari warga.