Pagi itu datang dengan cahaya yang lembut.
Matahari baru saja naik di atas atap-atap rumah Harjamulia Indah ketika jamaah mulai memenuhi halaman Masjid Baitul Ma’arif. Sarung dilipat rapi, peci hitam terpasang di kepala, dan baju putih tampak berderet seperti aliran yang pelan namun pasti menuju satu arah.
Di depan masjid, seorang khatib berdiri di balik mimbar kayu. Tangannya memegang lembaran kertas, sementara suaranya mengalir melalui pengeras suara yang memecah udara pagi yang masih segar.
Para jamaah duduk rapat di halaman. Dari belakang, hanya terlihat barisan peci dan kopiah putih yang menunduk khusyuk. Beberapa orang merapatkan saf, sedikit bergeser, memastikan bahu saling bertemu seperti yang diajarkan dalam salat berjamaah.
Udara pagi membawa aroma rumput yang masih basah. Sesekali terdengar suara burung dari atap rumah, bercampur dengan gema takbir yang sejak subuh menggantung di langit kota.
Hari ini Di Cirebon di Kompleks Harjamulia Indah adalah pagi Idul Fitri yang selalu memiliki suasana yang khas.
Kota yang sehari-hari dipenuhi suara kendaraan, pasar, dan aktivitas pelabuhan itu tiba-tiba berubah menjadi lebih tenang. Jalan-jalan yang biasanya ramai terasa lebih lapang. Orang-orang berjalan dengan langkah pelan, sebagian sambil bersalaman, sebagian membawa anak-anak kecil yang masih mengenakan pakaian baru.
Di halaman masjid-masjid kampung seperti ini, perayaan Idul Fitri tidak terasa megah, tetapi hangat.
Tidak ada panggung besar.
Tidak ada kemewahan.
Hanya manusia-manusia yang datang dengan satu niat yang sama: kembali.
Kembali setelah sebulan menahan lapar.
Kembali setelah sebulan belajar menahan diri.
Kembali saling memaafkan.
Di antara barisan jamaah itu, ada pedagang pasar, pegawai, tukang bangunan, mahasiswa, juga para orang tua yang telah melewati puluhan Ramadan dalam hidup mereka.
Semua duduk sejajar di atas halaman yang sama. Pagi Idul Fitri selalu mengingatkan satu hal sederhana: bahwa di tengah kehidupan kota yang terus bergerak, manusia tetap membutuhkan momen untuk berhenti sejenak.
Untuk merayakan syukur. Dan untuk kembali merasa menjadi bagian dari sesama.