Di salah satu sudut Stadion Bima, Cirebon, seorang penjual serabi menata dagangannya di atas meja kayu sederhana. Aneka serabi tersusun rapi, siap dibawa pulang oleh pembeli yang singgah selepas olahraga pagi atau sebelum memulai aktivitas harian.
Lapak ini tidak besar dan tidak mencolok. Bangku plastik, meja kayu, dan alat masak sederhana menjadi perlengkapan utama. Namun sejak pagi, aktivitas jual beli berlangsung pelan tapi konsisten. Pembeli datang silih berganti, sebagian memilih makan di tempat, sebagian membawa pulang.
Serabi yang dijajakan menjadi bagian dari rutinitas kawasan Stadion Bima. Di sela lalu lintas kendaraan dan aktivitas warga, lapak kecil seperti ini menjadi penanda bahwa ruang publik tidak hanya digunakan untuk berolahraga, tetapi juga untuk mencari nafkah.
Bagi penjualnya, pagi adalah waktu paling penting. Dagangan disiapkan sejak awal hari, mengikuti ritme pengunjung stadion. Tidak ada target besar, yang penting dagangan habis dan hari berjalan seperti biasa.
Kehadiran lapak serabi ini menunjukkan wajah ekonomi kecil yang hidup berdampingan dengan aktivitas kota. Sederhana, tanpa banyak sorotan, namun menjadi bagian dari keseharian warga.
Catatan Redaksi:
Tulisan ini merupakan liputan suasana keseharian warga di kawasan Stadion Bima, Cirebon