Di sela tanah merah dan rerumputan liar, bunga telang tumbuh tanpa banyak perhatian. Kelopaknya berwarna ungu lembut, mekar sederhana di tepi jalan—sering kali terlewat oleh pandangan orang yang berlalu-lalang. Padahal, tanaman kecil ini menyimpan cerita panjang tentang pengetahuan tradisional dan kebiasaan hidup sehat yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Bunga telang (Clitoria ternatea) sudah lama dikenal di masyarakat sebagai tanaman herbal. Di beberapa rumah, ia ditanam di pekarangan; di tempat lain, ia tumbuh liar seperti pada foto ini—tenang, tanpa pamrih. Warga Cirebon memanfaatkannya sebagai seduhan sederhana, campuran minuman, atau pewarna alami, jauh sebelum istilah “superfood” populer seperti sekarang.
Secara tradisional, air seduhan bunga telang dipercaya membantu menjaga daya tahan tubuh, memberi efek menenangkan, dan membantu tubuh beristirahat lebih baik. Warnanya yang alami juga kerap menjadi daya tarik tersendiri—menenangkan mata sebelum menenangkan tubuh. Namun, seperti kebanyakan tanaman herbal, manfaatnya dikenal melalui pengalaman turun-temurun, bukan sebagai pengganti pengobatan medis.
Yang menarik, kehadiran bunga telang di ruang-ruang terbuka kota mengingatkan kita bahwa kesehatan tidak selalu datang dari sesuatu yang mahal atau rumit. Kadang, ia hadir dalam bentuk yang sangat sederhana—tumbuh diam-diam di sekitar kita, menunggu untuk dikenali.
Di tengah kehidupan kota Cirebon yang kian cepat, bunga telang menjadi penanda kecil bahwa alam masih menyediakan ruang bagi warga untuk kembali mengenal ritme yang lebih pelan: mengamati, merawat, dan memanfaatkan dengan bijak.
Catatan Redaksi:
Artikel ini merupakan bagian dari rubrik Kesehatan Warga, yang merekam praktik hidup sehat berbasis pengetahuan lokal dan keseharian warga Cirebon, tanpa menggantikan rujukan medis profesional.