Ketika Anak Muda Mulai Belajar Menjaga Diri

Di tengah ritme kerja yang semakin cepat, banyak anak muda mulai menyadari satu hal: tubuh bisa dipaksa, tetapi pikiran punya batas. Di Cirebon, kesadaran ini muncul pelan-pelan, bukan lewat kampanye besar, melainkan dari pengalaman sehari-hari.

Beberapa memilih berjalan lebih sering di pagi hari, duduk lebih lama di warung kopi tanpa membuka ponsel, atau sekadar pulang lebih awal untuk memberi ruang pada diri sendiri. Bukan karena malas, tetapi karena lelah yang menumpuk mulai terasa sulit diabaikan. Ada yang mengaku tidur lebih teratur, ada pula yang mulai menulis atau bermeditasi singkat sebelum tidur.

Percakapan tentang lelah pun mulai muncul di lingkaran pertemanan. Tidak lagi dianggap lemah, tetapi dipahami sebagai bagian dari hidup. Bagi sebagian orang, berbagi cerita dengan teman dekat sudah cukup membantu. Bagi yang lain, mencari pendampingan menjadi pilihan agar pikiran lebih tertata.

Menariknya, perubahan ini tidak selalu membuat orang kurang produktif. Justru banyak yang merasa lebih fokus dan lebih tenang dalam bekerja. Ketika pikiran diberi jeda, keputusan terasa lebih jernih, dan emosi lebih terkendali.

Mungkin inilah tanda perubahan kecil yang sedang berlangsung. Bukan revolusi besar, tetapi kesadaran sederhana bahwa menjaga kesehatan mental adalah bagian dari merawat hidup. Pelan-pelan, anak muda belajar bahwa berhenti sejenak bukan berarti kalah—melainkan cara untuk tetap berjalan lebih jauh.