Di salah satu ruas jalan yang tak pernah benar-benar sepi di Cirebon, aroma minyak panas dan bumbu ayam goreng menyatu dengan hiruk pikuk kendaraan yang lalu-lalang. Di bawah payung warna-warni dan terpal sederhana, Ayam Goreng Santa Maria berdiri sebagai penanda kecil bagaimana kuliner kaki lima menjadi bagian tak terpisahkan dari ritme kota.
Tak ada bangunan megah atau papan nama besar. Yang ada justru antrean motor yang berhenti seadanya, obrolan singkat antar pembeli, dan gerak cepat tangan penjual yang sudah hafal urutan pesanan. Ayam-ayam yang digoreng hingga keemasan ini bukan sekadar makanan cepat saji, melainkan jeda singkat bagi banyak orang: sopir, pekerja kantoran, mahasiswa, hingga warga sekitar yang pulang dengan bungkusan kertas cokelat di tangan.
Seperti banyak kuliner jalanan lain di Cirebon, Ayam Goreng Santa Maria hidup dari kepercayaan yang dibangun perlahan. Dari rasa yang konsisten, harga yang terjangkau, dan lokasi yang mudah dijangkau. Di sinilah kota memperlihatkan wajahnya yang paling jujur—bahwa ruang publik bukan hanya trotoar dan aspal, tetapi juga titik-titik rasa tempat warga berhenti, berbagi cerita, dan mengisi tenaga sebelum melanjutkan perjalanan.
Kuliner semacam ini adalah arsip hidup. Ia mencatat perubahan kota dari hari ke hari, dari jam makan siang yang padat hingga sore yang mulai lengang. Dan di tengah lalu lintas yang terus bergerak, Ayam Goreng Santa Maria tetap setia pada perannya: sederhana, ramai, dan selalu dicari.
Catatan Redaksi:
Artikel ini disusun sebagai bagian dari rubrik Denyut Warga, untuk merekam kehidupan kuliner jalanan Cirebon sebagai bagian dari memori kolektif dan denyut sehari-hari kota.