Di salah satu sudut Stadion Bima, di bawah rindangnya pepohonan, sebuah warung sederhana berdiri tanpa banyak ornamen. Spanduk besar bertuliskan Nasi Kebuli Ayam Special dan Lontong Sayur Padang tergantung mencolok, menjadi penanda bahwa pagi di tempat ini selalu punya rasa.
Bangku plastik, meja rendah, dan lantai semen menjadi ruang makan bersama. Tidak ada sekat. Tidak ada formalitas. Seorang pembeli duduk sendiri, menunggu pesanan sambil menunduk ke layar ponsel. Di sudut lain, penjual menyiapkan hidangan dengan gerak yang sudah hafal ritme pagi.
Kuliner seperti ini tidak hidup dari ulasan rasa atau popularitas media sosial. Ia hidup dari kebiasaan. Dari warga yang tahu kapan harus datang, tahu harus duduk di mana, dan tahu bahwa sepiring nasi hangat di pagi hari bisa menjadi pembuka aktivitas yang panjang.
Menariknya, menu yang disajikan datang dari berbagai daerah—kebuli dengan aroma rempah Timur Tengah, lontong sayur khas Padang—namun bertemu dan diterima di satu ruang yang sama. Stadion Bima menjadi titik temu bukan hanya bagi warga yang berolahraga, tetapi juga bagi ragam rasa yang singgah dan menetap.
Di tengah kota yang terus bergerak, warung seperti ini menawarkan sesuatu yang sederhana: hari yang tidak tergesa-gesa. Duduk sebentar, makan hangat, lalu melanjutkan hari.
Catatan Redaksi:
Foto ini diambil di kawasan Stadion Bima, Cirebon, merekam aktivitas kuliner kaki lima sebagai bagian dari rutinitas warga.