Di sisi jalan kawasan Stadion Bima, Cirebon, sebuah tenda biru berdiri sederhana di bawah rindangnya pepohonan. Meja kayu, bangku panjang, dan spanduk bertuliskan Sego Pecel & Rawon Ponorogo menjadi penanda bahwa di tempat ini, sarapan bukan sekadar mengisi perut, tetapi bagian dari rutinitas pagi warga.
Sejak pagi, lapak ini mulai didatangi pengunjung. Ada yang baru selesai olahraga, ada pula yang sengaja mampir sebelum beraktivitas. Pecel dengan siraman sambal kacang khas dan rawon berkuah hitam pekat disajikan apa adanya—tanpa kemasan mewah, tanpa jarak antara penjual dan pembeli.
Di tempat seperti ini, rasa sering kali berjalan beriringan dengan suasana. Duduk di bangku kayu, menghadap jalan, sambil menyantap hidangan hangat, menjadi pengalaman yang sulit digantikan oleh ruang makan tertutup. Pecel dan rawon bukan hanya menu, tetapi bagian dari denyut pagi Stadion Bima.
Lapak ini juga mencerminkan wajah kuliner Cirebon yang terbuka. Makanan dari daerah lain—dalam hal ini Ponorogo—diterima, diolah, dan dinikmati sebagai bagian dari keseharian kota. Ia hidup berdampingan dengan menu lokal, menyatu dalam kebiasaan warga.
Kuliner kaki lima seperti ini jarang tercatat, tetapi selalu dirindukan. Ketika satu lapak tutup, warga akan mencari lapak lain dengan rasa dan suasana serupa. Karena yang dicari bukan hanya makanan, melainkan kenangan dan kebiasaan.
Catatan Redaksi:
Foto ini diambil di kawasan Stadion Bima, Cirebon, merekam aktivitas kuliner kaki lima yang menjadi bagian dari rutinitas pagi warga.