Ada masa ketika hidup terasa sempit. Usaha sudah dilakukan, tetapi rezeki tetap terasa berat dan hati sulit tenang. Dalam keadaan seperti itu, Rasulullah ﷺ mengingatkan satu amalan sederhana yang sering luput diperhatikan: istighfar.
Rasulullah ﷺ bersabda bahwa siapa yang membiasakan istighfar, Allah akan memberinya jalan keluar dari kesulitan, kelapangan dari kesedihan, dan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka. Pesan ini bukan sekadar nasihat, melainkan pengingat bahwa hubungan dengan Allah sering kali menjadi kunci dari masalah yang terasa buntu.
Istighfar bukan hanya pengakuan dosa, tetapi cara membersihkan hati. Ketika hati menjadi lebih jernih, pikiran lebih tenang, dan langkah terasa ringan, pertolongan Allah datang dengan cara yang sering tidak terduga. Bahkan Muhammad sendiri membiasakan istighfar setiap hari, meski beliau adalah manusia paling mulia.
Al-Qur’an pun mengaitkan istighfar dengan kelapangan rezeki dan kemudahan hidup. Artinya, rezeki bukan semata hasil hitungan manusia, tetapi juga buah dari hati yang kembali kepada Allah. Kadang yang perlu dibuka bukan peluang baru, melainkan pintu batin yang tertutup oleh kelalaian.
Istighfar adalah amalan ringan, namun dampaknya luas. Ia menghadirkan ketenangan, membersihkan hati, dan membuka jalan keberkahan. Bisa jadi, satu kalimat “Astaghfirullah” yang diucapkan dengan sungguh-sungguh menjadi awal dari kelapangan yang selama ini dinanti.