Langit pagi belum sepenuhnya terang ketika bau darah segar bercampur dengan tanah basah menyusup pelan ke hidung. Matahari masih rendah, cahayanya jatuh miring, memantul di timbangan digital yang sudah kusam dan di kulit ayam yang pucat berkilat. Seorang lelaki duduk membelakangi keramaian, punggungnya sedikit membungkuk, peci hitamnya menyerap warna oranye fajar. Di hadapannya, potongan ayam tertata di atas meja kayu yang tak lagi rata—seperti ritual yang diulang setiap hari tanpa banyak kata.
Sepeda motor tua terparkir tepat di sampingnya, pelatnya menghitam oleh waktu. Rantai besinya kering, joknya retak-retak, tapi masih setia menjadi saksi. Di bawah meja, ember putih dan tong abu-abu menyimpan sisa-sisa pagi: air keruh, bulu yang menempel, kain lap yang sudah tak lagi benar-benar bersih. Tanah di sekitarnya lembek, bercampur lumpur dan serpihan plastik biru yang terinjak-injak. Suara pisau membelah tulang terdengar pendek, tegas. Sekali tekan. Sekali patah.
Di seberang jalan kecil itu, pasar mulai bernapas. Seorang ibu berkerudung menimbang sayur, dua lelaki duduk di bangku kayu yang miring, rokok mengepul tipis. Terpal oranye menggelembung tertiup angin, menaungi warung kecil yang menjual kopi dan gorengan. Bau minyak panas bercampur dengan amis daging dan aroma tanah yang baru tersiram. Semua bergerak perlahan, seperti adegan yang tidak pernah benar-benar berubah sejak puluhan tahun lalu.
Cirebon selalu punya pagi yang seperti ini. Kota pesisir yang hidup dari pertemuan—laut dan darat, santri dan saudagar, keraton dan pasar. Di balik tembok-tembok tua Keraton yang menyimpan sejarah, ada denyut ekonomi yang sederhana tapi tak pernah berhenti: tangan-tangan yang memotong, menimbang, membungkus, menyerahkan. Kota Wali bukan hanya tentang ziarah dan doa yang menggema dari masjid-masjid tua. Ia juga tentang kerja yang diam-diam, tentang rezeki yang dicari sebelum matahari tinggi.
Penjual ayam itu tidak banyak bicara. Sesekali ia mengangkat kepala, memastikan timbangan seimbang, lalu kembali menunduk. Gerakannya hemat, efisien, seperti sudah menyatu dengan ritme pasar. Dalam cahaya yang makin terang, uap tipis naik dari daging yang baru dipotong. Seekor ayam utuh berubah menjadi bagian-bagian: dada, paha, sayap—seperti cara kota ini membagi dirinya agar semua bisa hidup.
Tak ada papan nama besar. Tak ada spanduk diskon. Hanya meja kayu, timbangan, pisau, dan kesabaran. Namun dari tempat sesederhana ini, makan siang keluarga-keluarga di Cirebon bermula. Dari sini, kuah empal, sate, opor, dan gulai menemukan bahan dasarnya. Dari sini, percakapan di dapur-dapur kecil akan menghangat.
Menjelang siang, cahaya akan menjadi lebih keras. Lumpur mengering, lalat berdengung lebih ramai, dan pasar mencapai puncak suaranya. Lalu sore datang, satu per satu lapak ditutup, meja dibersihkan seadanya, dan lelaki itu akan mengikat kembali barang-barangnya di motor tua yang sama. Besok pagi, sebelum kota benar-benar terjaga, ia akan kembali.
Di kota pesisir seperti Cirebon, ingatan tidak selalu disimpan dalam arsip atau prasasti. Ia hidup dalam rutinitas yang diulang, dalam bau yang khas, dalam suara pisau yang membelah tulang di pagi hari. Di antara terpal yang memudar dan tanah yang lembek, waktu berjalan pelan—dan seorang penjual ayam menjaga agar kehidupan tetap bergerak, sepotong demi sepotong.