Hidup adalah rangkaian pilihan. Setiap hari, manusia dihadapkan pada keputusan kecil maupun besar yang perlahan membentuk arah hidupnya. Ada pilihan yang tampak menguntungkan, tetapi meninggalkan kegelisahan. Ada pula pilihan yang terasa berat, namun justru menghadirkan ketenangan.
Rasulullah ﷺ memberi pedoman sederhana namun mendalam: meninggalkan apa yang meragukan dan memilih apa yang menenangkan. Pesan ini bukan hanya soal benar atau salah, tetapi tentang menjaga kejernihan hati. Sebab, kejujuran selalu membawa rasa damai, sementara kebohongan—sekecil apa pun—menyisakan resah yang sulit dihapus.
Keraguan sering menjadi tanda bahwa hati sedang memberi peringatan. Ketika sesuatu membuat batin tidak nyaman, berhenti sejenak dan mundur bukanlah kelemahan. Justru di situlah kebijaksanaan bekerja. Orang yang menjaga hatinya tidak tergesa-gesa, tidak silau oleh keuntungan cepat, dan tidak memaksakan diri membenarkan yang samar.
Di tengah kehidupan modern yang penuh pilihan abu-abu, prinsip ini terasa semakin relevan. Baik dalam ucapan, keputusan, maupun sikap sehari-hari, memilih yang jujur dan menenangkan hati sering kali menjadi jalan yang paling aman, meski tidak selalu paling mudah.
Pada akhirnya, hidup bukan tentang seberapa banyak yang diraih, tetapi tentang seberapa tenang hati menjalaninya. Dan ketenangan itu biasanya hadir saat seseorang berani meninggalkan yang meragukan, demi menjaga kejujuran dan kebersihan batinnya.