Setiap Minggu pagi, kawasan Bima di Cirebon berubah wajah. Di bawah naungan pepohonan yang masih menyimpan sisa embun malam, lapak-lapak sederhana bermunculan—tanpa bangunan permanen, tanpa papan nama besar. Inilah pasar tumpah, sebuah ritual mingguan yang tumbuh dari kebutuhan, kebiasaan, dan kesepakatan tak tertulis antarwarga.
Di foto ini, seorang pedagang duduk rendah, menata pakaian satu per satu. Tangannya bergerak pelan, memeriksa kain batik, kaus, dan celana yang digelar di atas terpal. Di sekelilingnya, warna-warna pakaian bercampur dengan aroma tanah lembap dan suara percakapan pendek antara penjual dan pembeli. Tak ada pengeras suara, tak ada musik—yang terdengar hanyalah denyut pagi.
Pasar tumpah Bima bukan sekadar tempat jual beli. Ia adalah ruang sosial sementara, tempat warga dari berbagai latar bertemu tanpa sekat. Harga bisa ditawar, cerita bisa bertukar. Bagi sebagian orang, ini adalah cara bertahan hidup. Bagi yang lain, ini adalah cara berhemat. Namun bagi kota, pasar ini adalah penanda: bahwa ekonomi warga tidak selalu butuh gedung megah untuk bergerak.
Keberadaannya yang “tumpah” —mengambil sebagian badan jalan dan ruang hijau—justru menunjukkan fleksibilitas kota. Selama beberapa jam, Cirebon mengalah pada warganya. Lalu menjelang siang, lapak akan dilipat, pakaian dimasukkan ke karung, dan kawasan kembali seperti semula. Tak ada jejak permanen, kecuali ingatan.
Pasar seperti ini jarang tercatat dalam peta resmi, tetapi hidup dalam memori kolektif. Ia mengajarkan bahwa kota tidak hanya dibangun dari beton dan peraturan, melainkan dari kebiasaan kecil yang berulang, sabar, dan manusiawi.
Di Minggu pagi Bima, Cirebon tidak berlari. Ia berjalan pelan—memberi waktu bagi warganya untuk saling melihat.