Pagi Idul Adha di Cirebon selalu punya cahaya yang berbeda. Matahari datang lebih hangat, langit terasa lebih terbuka, dan jalan-jalan kecil di sekitar kampung mulai dipenuhi langkah warga sejak pagi buta.
Di halaman Masjid Baitul Maarif Harjamulia, orang-orang datang perlahan dengan pakaian terbaik mereka. Anak-anak berjalan lebih cepat dari orang tuanya, sebagian masih menggenggam tangan ayah atau ibunya. Baju koko putih, sarung bermotif, mukena yang bersih, dan sandal yang berderet di pinggir masjid menjadi pemandangan yang hanya benar-benar terasa pada pagi hari raya.
Di udara, gema takbir masih seperti tertinggal dari malam sebelumnya.
“Allahu Akbar, Allahu Akbar…”
Suara itu mungkin sudah berhenti dilantunkan dari pengeras suara, tetapi suasananya masih hidup di wajah-wajah yang datang ke masjid pagi itu.
Cahaya matahari jatuh miring di halaman rumput depan masjid. Pantulannya membentuk lingkar cahaya tipis di lensa kamera, seperti pelangi kecil yang menggantung di antara keramaian warga. Orang-orang saling menyapa, berjabat tangan, dan tersenyum satu sama lain sebelum sholat dimulai.
Di kota seperti Cirebon, Idul Adha bukan hanya perayaan keagamaan. Ia juga tentang pertemuan.
Tentang warga yang sehari-hari sibuk bekerja lalu kembali duduk berdampingan di saf yang sama. Tentang anak-anak yang berlari kecil di halaman masjid sambil membawa plastik berisi sandal. Tentang orang-orang tua yang datang lebih awal dan duduk tenang menunggu khutbah dimulai.
Di Baitul Maarif pagi itu, suasana terasa akrab. Tidak ada jarak yang terlalu jauh antara satu warga dengan warga lainnya. Semua larut dalam ritme hari raya yang sederhana namun hangat.
Idul Adha sendiri selalu membawa makna pengorbanan. Tentang keikhlasan, tentang berbagi, dan tentang kemampuan manusia untuk melepaskan sesuatu demi nilai yang lebih besar. Namun di kampung-kampung Cirebon, makna itu sering hadir dalam bentuk yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Pada daging kurban yang nanti dibagikan ke rumah-rumah.
Pada panitia yang bekerja sejak pagi tanpa banyak bicara.
Pada warga yang saling membantu membungkus dan mengantar.
Dan pada rasa kebersamaan yang muncul tanpa perlu dibuat-buat.
Psikologi sosial menyebut momen seperti ini sebagai collective belonging—perasaan menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar daripada diri sendiri. Ketika orang berkumpul dalam ritual yang sama, ada rasa aman dan kedekatan emosional yang tumbuh secara alami.
Mungkin itu sebabnya hari raya selalu terasa berbeda. Bukan hanya karena takbir atau pakaian baru, tetapi karena ada suasana yang sulit dijelaskan: perasaan bahwa untuk sesaat, semua orang kembali saling dekat.
Ketika sholat selesai, jamaah perlahan keluar dari halaman masjid. Anak-anak mulai ramai bermain, orang dewasa saling bersalaman lebih lama dari biasanya, dan percakapan kecil muncul di bawah cahaya pagi yang semakin terang.
Di sudut-sudut kampung Harjamulia, hari raya baru saja dimulai. Dan seperti banyak pagi Idul Adha sebelumnya di Cirebon, yang paling terasa bukan hanya gema takbirnya—melainkan hangatnya warga yang kembali berkumpul, membawa rasa syukur dalam cara yang sederhana dan sangat manusiawi.