Di Antara Tumpukan Buku, Kota Sedang Memilih Dirinya Sendiri

Di ruang yang dingin oleh lampu dan beton, tumpukan buku tersusun rapi—diam, tapi penuh suara. Sampul-sampul berwarna itu memanggil dengan cara yang halus: bukan teriak diskon, melainkan janji perjalanan. Di sinilah warga Cirebon berhenti sejenak dari rutinitas, menunduk, dan memilih cerita.

Rak bertuliskan New Arrival dan Best Seller bukan sekadar strategi dagang. Ia adalah cermin selera zaman. Novel populer berdampingan dengan nonfiksi ringan, buku pengembangan diri bersisian dengan kisah-kisah misteri. Setiap judul adalah pintu, dan setiap pembaca memegang kuncinya sendiri.

Di kota yang ritmenya kian cepat, lapak buku semacam ini menjadi ruang antara—tempat orang bertemu pengetahuan tanpa formalitas. Tidak perlu ruang baca sunyi, tidak perlu keanggotaan. Cukup tangan yang meraih, mata yang membaca blurb, dan keputusan kecil untuk membawa pulang satu dunia baru.

Yang menarik, buku-buku ini berpindah tangan dengan cara paling manusiawi: disentuh, dibolak-balik, ditimbang harganya, lalu dipilih. Di tengah arus digital, pengalaman fisik ini terasa seperti perlawanan lembut. Membaca masih hidup, tidak sebagai tren, melainkan kebiasaan yang terus mencari bentuknya.

Lapak ini juga bercerita tentang ekonomi budaya: harga yang terjangkau membuka akses, dan akses melahirkan kemungkinan. Anak sekolah, pekerja kantoran, hingga pembaca kasual bertemu di meja yang sama. Tidak ada hierarki—hanya rasa ingin tahu.

Di antara tumpukan buku, kota sedang memilih dirinya sendiri: apakah ia akan terus berjalan tanpa menoleh, atau berhenti sejenak untuk membaca dan memahami. Dan di ruang sederhana ini, jawabannya tampak jelas—Cirebon masih mau membuka halaman.


Catatan Redaksi:
Artikel ini disusun sebagai bagian dari upaya mendokumentasikan denyut literasi warga melalui ruang-ruang baca informal. Bukan ulasan produk, melainkan potret budaya membaca yang hidup di tengah kota.