Di sebuah sudut Kalitanjung, Cirebon, berdiri lapak sederhana dari bambu dan terpal yang menahan panas dan hujan seadanya. Dari sanalah gantungan-gantungan pisang menggantung rapat—kuning keemasan, hijau pekat, sebagian mulai berbintik cokelat, tanda kematangan yang siap disantap. Tidak ada papan nama mencolok, tidak pula etalase kaca. Namun lapak ini berbicara banyak tentang denyut ekonomi kecil yang setia menghidupi kota.
Pisang-pisang itu digantung berlapis, disusun dengan logika yang lahir dari pengalaman panjang. Pisang raja, kepok, ambon, hingga tanduk—masing-masing memiliki pembelinya sendiri. Ada yang datang pagi-pagi untuk bekal anak sekolah, ada pula yang singgah sore hari, mencari pisang matang untuk gorengan atau teman minum teh. Di sinilah ritme kota terasa lebih lambat, lebih manusiawi.
Kalitanjung dikenal sebagai kawasan lintasan—orang datang dan pergi, kendaraan melintas tanpa henti. Namun lapak pisang ini seperti jangkar kecil yang menahan ingatan kolektif: bahwa sebelum swalayan dan aplikasi belanja, kebutuhan dasar selalu dipenuhi dari tangan ke tangan. Transaksi berlangsung singkat, sering kali disertai obrolan ringan tentang harga, cuaca, atau kabar kampung.
Menariknya, spanduk modern yang menempel di lapak kontras dengan suasana tradisional di sekitarnya. Ia menjadi penanda zaman—bahwa pedagang kecil pun kini berdampingan dengan ekonomi digital, tanpa benar-benar meninggalkan cara lama. Pisang tetap ditimbang manual, dipilih dengan rabaan dan tatapan mata, bukan lewat layar.
Lapak ini bukan sekadar tempat jual beli buah. Ia adalah potret ketahanan ekonomi rakyat, ruang hidup yang bertahan di sela pembangunan kota. Di Kalitanjung, pisang-pisang yang tergantung itu bukan hanya komoditas—ia adalah saksi bisu bagaimana warga Cirebon bertahan, hari demi hari, dengan kesederhanaan yang teguh.