Pagi di pasar selalu dimulai dengan transaksi. Tawar-menawar, plastik kresek yang dibuka, sayur yang ditimbang, dan suara sepeda yang berhenti sebentar di tepi lapak. Matahari naik perlahan, menyinari wajah-wajah yang bekerja sejak subuh.
Namun di sela aktivitas itu, ada satu hal yang sering luput dari percakapan: sampah. Di tepi saluran air, plastik bekas kemasan, sisa sayuran, botol minuman, dan potongan kardus mulai menumpuk. Ia hadir pelan, seperti kebiasaan yang dianggap biasa. Tidak mencolok di awal, tapi perlahan membentuk pemandangan yang sulit diabaikan.
Pasar adalah jantung ekonomi rakyat. Ia hidup dari perputaran barang dan manusia. Tapi setiap perputaran selalu menyisakan jejak. Dan jejak itu, jika tak dikelola, akan kembali ke kita dalam bentuk berbeda: bau, genangan, saluran tersumbat, hingga penyakit.
Pengelolaan sampah di pasar bukan sekadar urusan kebersihan. Ia adalah soal sistem. Banyak pasar tradisional masih bergantung pada pengangkutan harian tanpa pemilahan. Sampah organik bercampur dengan plastik. Sisa makanan bercampur dengan kemasan. Padahal sebagian besar sampah pasar sebenarnya bisa dikelola ulang—sayuran busuk menjadi kompos, kardus didaur ulang, plastik dipilah sebelum dibuang.
Masalahnya bukan semata kurangnya fasilitas. Kadang ia adalah kebiasaan.
Di tengah aktivitas jual beli yang cepat, membuang sampah pada tempatnya terasa sepele. Namun ketika ratusan orang berpikir sama, yang sepele berubah menjadi persoalan bersama.
Pasar bukan ruang terpisah dari kota. Ia bagian dari wajah Cirebon itu sendiri.
Ketika saluran air di tepi pasar dipenuhi sampah, bukan hanya estetika yang terganggu. Air hujan kehilangan jalannya. Lingkungan sekitar terdampak. Dan perlahan, kualitas hidup ikut tergerus.
Pengelolaan sampah pasar membutuhkan lebih dari sekadar petugas kebersihan. Ia membutuhkan kolaborasi: pedagang, pembeli, pengelola pasar, dan pemerintah daerah. Tempat sampah terpisah. Edukasi sederhana. Jadwal pengangkutan yang konsisten. Bahkan kesadaran kecil untuk mengurangi plastik sekali pakai.
Kota yang sehat tidak hanya diukur dari bangunan tinggi atau jalan yang lebar. Ia juga diukur dari bagaimana ia memperlakukan sisa aktivitasnya.
Di pasar, kita melihat kehidupan dalam bentuk paling nyata: kerja keras, perputaran ekonomi, dan interaksi sosial. Sudah sewajarnya ruang sehidup itu juga mendapat perhatian dalam hal kebersihan dan pengelolaan limbahnya.
Karena pada akhirnya, sampah bukan hanya tentang apa yang kita buang.
Ia tentang pilihan.
Tentang kebiasaan.
Tentang wajah kota yang kita rawat—atau kita abaikan.
Dan Cirebon, seperti kota mana pun, akan menjadi seperti cara warganya memperlakukan ruang bersama.