Karpet hijau itu membentang tenang di lantai Masjid Baitul Ma’arif, Harjamulia. Lampu-lampu masjid memancarkan cahaya hangat yang jatuh lembut ke wajah para jamaah yang duduk bersila.
Di depan, seorang ustaz duduk di balik mimbar kayu rendah. Suaranya tidak keras, tetapi cukup untuk memenuhi ruangan. Di belakangnya, sebuah spanduk kuning bertuliskan Nuzulul Qur’an menggantung di dinding, sederhana namun mencolok di antara warna-warna masjid yang tenang.
Para jamaah duduk rapat di atas karpet. Sarung dilipat rapi, peci hitam terpasang di kepala, beberapa anak kecil duduk di antara orang dewasa sambil memperhatikan dengan mata penasaran.
Sesekali terdengar suara kipas angin berputar pelan.
Sesekali pula terdengar batuk kecil yang memecah keheningan.
Malam Ramadan berjalan dengan ritmenya sendiri.
Di kota seperti Cirebon—kota pesisir yang sejak lama menjadi persimpangan dakwah, perdagangan, dan budaya—malam Nuzulul Qur’an bukan sekadar peringatan sejarah. Ia adalah cara kota ini menjaga ingatan.
Bahwa pernah ada malam ketika wahyu pertama turun. Bahwa dari kata-kata itulah peradaban dibangun. Di masjid-masjid kampung seperti ini, ingatan itu terus dirawat.
Bukan dengan kemegahan.
Tetapi dengan duduk bersama, mendengar, dan saling mengingatkan. Di tengah kota yang siangnya dipenuhi suara pasar, kendaraan, dan aktivitas ekonomi kecil, malam seperti ini memberi ruang bagi sesuatu yang lebih sunyi.
Ruang bagi manusia untuk kembali mendengar. Mungkin bukan hanya ceramah. Tetapi juga suara hatinya sendiri.