Pagi yang Selalu Dimulai dari Pasar

Langit di atas Cirebon masih pucat ketika pasar-pasar kecil mulai hidup. Lampu-lampu warung belum semuanya dimatikan, dan udara pagi masih menyimpan sisa dingin malam yang perlahan menghilang bersama cahaya matahari yang datang dari arah laut.

Di lorong sempit pasar, sayur-sayuran ditata di atas tikar plastik. Daun bayam yang masih basah oleh embun, cabai merah yang berkilau, tomat yang bulat dan padat seperti baru dipetik. Di meja lain, ikan laut tersusun di atas es, kulitnya memantulkan cahaya seperti potongan perak.

Seorang pedagang membuka plastik besar berisi bawang merah. Aromanya langsung menyebar—tajam, hangat, dan akrab bagi siapa pun yang pernah memasak di dapur rumah.

Di Cirebon, pagi sering dimulai dari tempat seperti ini.

Pasar bukan hanya tempat orang membeli bahan makanan. Ia juga ruang pertemuan kota. Tempat kabar terbaru beredar dari mulut ke mulut, tempat orang saling menyapa, bertanya kabar, atau sekadar berhenti sebentar sebelum melanjutkan hari.

Di sudut lain, seorang penjual kopi menyalakan kompor kecilnya. Air mendidih di dalam panci logam, dan aroma kopi hitam yang pekat mulai mengisi udara. Beberapa orang berdiri di sekitarnya, memegang gelas kaca panas yang mengepul.

Tak jauh dari sana, seorang ibu menawar harga sayur dengan suara pelan tapi tegas. Penjualnya tersenyum, menambahkan sedikit daun bawang ke dalam plastik sebagai tanda kesepakatan kecil yang sudah lama menjadi tradisi.

Pasar-pasar seperti ini tersebar di banyak sudut Cirebon—di dekat kampung, di pinggir jalan, atau di bawah bangunan yang sudah berdiri puluhan tahun. Sebagian besar tidak berubah banyak dari waktu ke waktu. Meja kayu yang sama, terpal yang sama, bahkan wajah-wajah yang sama yang datang setiap pagi.

Di kota pesisir seperti Cirebon, kehidupan sering bergerak dari hal-hal sederhana. Dari sayur yang dipilih dengan teliti, ikan yang dibersihkan di meja kecil, atau kantong plastik yang diisi cabai dan bawang untuk makan siang nanti.

Banyak orang mungkin hanya lewat sebentar, membeli apa yang diperlukan, lalu pergi. Tapi bagi kota ini, pasar adalah salah satu tempat di mana ritme kehidupan paling terasa.

Di sana ada kerja keras, percakapan pendek, tawar-menawar kecil, dan kebiasaan yang diulang setiap hari.

Ketika matahari mulai naik lebih tinggi, pasar akan semakin ramai. Suara orang bercampur dengan bunyi plastik, timbangan, dan langkah kaki yang hilir mudik di lorong sempit.

Lalu menjelang siang, satu per satu lapak mulai berkurang. Sayur tersisa dibungkus kembali, ikan terakhir terjual, dan pedagang mulai bersiap pulang.

Namun keesokan paginya, sebelum kota benar-benar terbangun, pasar akan hidup lagi.

Seperti napas yang tidak pernah berhenti—tenang, sederhana, tapi selalu ada.