Tradisi Nyekar Selepas Sholat Idul Fitri Di Cirebon

Pagi di pemakaman itu datang dengan cahaya yang jatuh pecah di antara daun-daun kamboja.

Tanah masih lembap, batu-batu nisan tua diselimuti lumut hijau yang menempel seperti ingatan yang tak pernah benar-benar hilang. Di antara barisan makam bata yang rendah, orang-orang datang perlahan. Sebagian membawa bunga, sebagian hanya membawa doa.

Mereka duduk melingkar di antara pusara.

Seorang anak kecil berdiri di dekat nisan, memandangi orang-orang dewasa yang menundukkan kepala. Di sebelahnya, para ibu berkerudung putih duduk rapat sambil memegang tas kecil berisi bunga tabur. Suara bacaan doa mengalun pelan, bercampur dengan gesekan daun yang bergerak tertiup angin.

Begitulah pagi selepas Idul Fitri di banyak sudut Cirebon.

Setelah salat Ied, setelah silaturahmi, langkah-langkah warga sering berlanjut ke tempat yang lebih sunyi: pemakaman keluarga.

Di kota pesisir ini, tradisi nyekar bukan sekadar ziarah. Ia adalah cara orang-orang menjaga hubungan dengan waktu. Dengan orang-orang yang pernah hidup di rumah yang sama, berjalan di gang yang sama, dan kini hanya tinggal dalam ingatan.

Makam-makam tua itu diam.
Namun kehidupan di sekitarnya terus bergerak.

Anak-anak berjalan di antara nisan.
Orang-orang dewasa menaburkan bunga.
Doa-doa dilantunkan pelan, seperti percakapan dengan masa lalu.

Di bawah pohon-pohon yang menaungi pemakaman itu, Idul Fitri terasa memiliki arti yang lebih luas.

Bukan hanya tentang kembali saling memaafkan di antara yang hidup.

Tetapi juga tentang mengingat mereka yang telah lebih dulu pulang.