Lampu-lampu masjid menyala lembut, memantul di karpet hijau yang terbentang rapi. Udara di dalam ruangan terasa tenang, seolah waktu berjalan sedikit lebih pelan di sini. Di barisan depan, seorang ustaz duduk menghadap jamaah, suaranya rendah, teratur, mengalun seperti ritme yang sudah dikenal oleh semua yang hadir.
Laki-laki duduk bersila, sebagian menunduk, sebagian memejamkan mata. Tangan mereka terbuka di atas lutut, diam, menerima setiap lantunan doa yang mengisi ruang. Sesekali terdengar gumaman pelan, mengikuti bacaan yang telah dihafal sejak lama.
Ini bukan sekadar pertemuan. Ini adalah tahlilan—ritual yang hidup di banyak kampung di Cirebon, menjadi bagian dari cara masyarakat menjaga hubungan dengan mereka yang telah pergi.
Di dalam masjid seperti Baitul Maarif Harjamulia, tahlilan tidak pernah terasa asing. Ia datang bersama kebiasaan, bersama rasa kebersamaan yang tidak perlu dijelaskan. Orang-orang berkumpul bukan hanya untuk mendoakan, tetapi juga untuk hadir—secara utuh—dalam satu ruang yang sama.
Di sudut karpet, gelas plastik berisi air diletakkan rapi di atas nampan. Sederhana, tapi cukup. Seperti banyak hal dalam tradisi ini, tidak ada yang berlebihan. Yang penting adalah niat, dan kebersamaan yang menyertainya.
Dalam psikologi, ada satu hal yang sering dibahas ketika manusia menghadapi kehilangan: kebutuhan untuk tetap terhubung. Bukan secara fisik, tetapi secara emosional dan spiritual. Tahlilan menjadi salah satu cara untuk itu.
Melalui doa yang diulang bersama, melalui kehadiran orang-orang yang datang, duka tidak dibiarkan menjadi beban yang dipikul sendirian. Ia dibagi, dipeluk bersama, dan perlahan menjadi lebih ringan.
Di kota seperti Cirebon, yang sejak lama dikenal sebagai Kota Wali, tradisi seperti ini bukan hanya soal agama. Ia juga tentang cara masyarakat menjaga keseimbangan batin. Tentang bagaimana kehilangan tidak memutus hubungan, tetapi justru mengubah bentuknya.
Di antara bacaan yang mengalun, ada ingatan yang diam-diam hadir. Tentang seseorang yang pernah duduk di tempat yang sama. Tentang suara yang dulu akrab. Tentang kehidupan yang pernah berjalan bersama.
Tidak semua ingatan perlu diucapkan.
Cukup dengan duduk bersama, mendengarkan doa, dan membiarkan hati mengikuti alur yang sama.
Ketika tahlilan selesai, jamaah akan perlahan berdiri. Beberapa saling menyalami, beberapa berbicara pelan, dan sebagian memilih langsung pulang dalam diam. Namun sesuatu telah berubah—tidak terlihat, tapi terasa.
Di tempat seperti ini, duka tidak pernah benar-benar sendiri. Dan mungkin, itulah yang membuat tradisi ini tetap hidup: bukan hanya karena doa yang dibaca, tetapi karena kehadiran yang saling menguatkan—diam-diam, tapi nyata.