Minggu Pagi di Bawah Pohon-Pohon Bima

Matahari baru naik ketika cahaya keemasan mulai jatuh di sepanjang jalan kawasan Bima. Di bawah deretan pohon-pohon besar yang menaungi trotoar, tenda-tenda biru sudah berdiri sejak pagi. Kaos anak-anak bergambar tokoh kartun bergantung rapi, berayun pelan mengikuti angin yang bergerak di antara dedaunan.

Orang-orang datang tanpa terburu-buru.

Sebagian berjalan kaki menyusuri jalur yang lengang dari kendaraan. Sebagian lagi berhenti di depan lapak, memperhatikan barang-barang yang digelar sederhana di tepi jalan. Anak-anak sesekali menarik tangan orang tuanya, menunjuk mainan atau camilan yang menarik perhatian mereka.

Di kawasan Bima, Minggu pagi memang punya suasana sendiri.

Bukan hanya tentang olahraga atau berbelanja. Ada kebiasaan yang perlahan tumbuh menjadi bagian dari akhir pekan warga Cirebon. Keluar rumah lebih pagi, menghirup udara segar, bertemu keramaian yang tidak bising, lalu pulang membawa sesuatu—kadang sebuah kaos, kadang segelas minuman dingin, kadang hanya suasana hati yang lebih ringan.

Di sepanjang jalan, pedagang kecil menata dagangan mereka dengan sabar. Ada yang menjual pakaian, mainan anak, aksesoris, hingga makanan dan minuman. Bagi sebagian dari mereka, pagi seperti ini adalah kesempatan yang ditunggu setiap minggu.

Sinar matahari menembus sela-sela daun dan membentuk bercak-bercak cahaya di atas aspal. Di kejauhan, suara obrolan bercampur dengan langkah kaki yang terus bergerak. Tidak terlalu ramai, tidak terlalu sepi.

Pas.

Seperti banyak hal di Cirebon, suasana itu terasa sederhana, tetapi selalu dirindukan.

Mungkin karena di tempat seperti ini, kota terasa lebih dekat dengan warganya. Tidak ada tembok tinggi. Tidak ada ruang yang terasa eksklusif. Semua berjalan berdampingan di bawah naungan pohon-pohon yang sudah lama menjadi saksi perubahan kawasan ini.

Menjelang siang, keramaian akan perlahan berkurang. Sebagian pedagang mulai membereskan barang dagangannya. Warga satu per satu kembali pulang.

Namun minggu depan, suasana yang sama akan kembali hadir.

Di bawah pohon-pohon Bima yang rindang, pagi akan kembali membawa langkah-langkah santai, tawa anak-anak, dan denyut kecil kehidupan kota yang tumbuh dari hal-hal sederhana.

Karena kadang, Cirebon tidak perlu peristiwa besar untuk terasa hidup. Cukup sebuah Minggu pagi, jalan yang teduh, dan warga yang menikmati kotanya dengan cara yang paling sederhana.