Dari Racikan Tangan, Aroma Masakan Cirebon Berawal

Lorong Pasar Kanoman belum benar-benar lengang, tetapi aroma rempah sudah memenuhi ruang sempit di antara kios-kios yang berdiri rapat. Warna merah cabai giling, kuning kunyit, cokelat ketumbar, dan putih kemiri memenuhi baskom-baskom besar yang berjajar di atas meja kayu. Di baliknya, seorang pedagang sibuk mengisi bumbu ke dalam plastik bening, menimbangnya dengan tangan yang bergerak cepat tanpa banyak berpikir.

“Masak gulai, ya?”

Pertanyaan itu meluncur begitu saja kepada seorang pembeli yang baru datang.

Tak lama kemudian, sendok besar menyendok campuran bumbu dari baskom yang berbeda. Sedikit cabai, bawang yang sudah dihaluskan, ketumbar, kemiri, kunyit, lalu beberapa rempah lain yang hanya diketahui oleh tangan-tangan yang setiap hari bergelut dengan dapur pasar.

Di kios kecil itu, bumbu tidak dijual dengan satu ukuran untuk semua.

Setiap masakan punya racikannya sendiri.

Ada yang datang mencari bumbu rendang, ada yang meminta bumbu gulai, opor, semur, rawon, hingga pepes. Sebagian membawa daftar belanja dari rumah, sebagian lagi hanya menyebut nama masakan yang ingin dihidangkan sore nanti.

Di Pasar Kanoman, kios-kios bumbu seperti ini telah menjadi bagian dari kehidupan yang nyaris tak berubah oleh waktu. Ketika banyak orang memilih bumbu instan di rak-rak supermarket, masih ada warga Cirebon yang lebih percaya pada racikan pasar—bumbu yang dibuat pagi itu juga, dengan komposisi yang bisa disesuaikan dengan selera setiap keluarga.

Bagi para pedagang, pekerjaan ini bukan sekadar menakar rempah.

Mereka harus tahu aroma yang pas untuk gulai kambing, tingkat pedas yang cocok untuk sambal, atau campuran yang membuat rendang lebih kaya rasa. Pengetahuan itu tidak tertulis di buku resep. Ia berpindah dari pengalaman ke pengalaman, dari dapur ke dapur, dari pasar kepada pelanggan yang kembali datang bertahun-tahun kemudian.

Di rak-rak kayu yang mulai kusam dimakan usia, rempah-rempah tersusun berdampingan dengan aneka kebutuhan dapur lainnya. Bau cabai giling yang tajam sesekali bercampur dengan harum ketumbar dan kemiri, menciptakan aroma yang sulit ditemukan di tempat lain selain pasar tradisional.

Menjelang siang, pembeli semakin ramai. Plastik-plastik kecil berisi bumbu satu per satu berpindah tangan, lalu ikut pulang menuju dapur-dapur di berbagai sudut Cirebon.

Beberapa jam kemudian, racikan yang lahir dari kios sederhana itu akan berubah menjadi semangkuk gulai hangat, sepanci rendang, atau opor yang tersaji di meja makan keluarga.

Begitulah pasar bekerja.

Ia tidak hanya menjual bahan makanan.

Ia juga mengirimkan aroma, rasa, dan kenangan ke rumah-rumah warga.

Dan di sebuah kios kecil di Pasar Kanoman, semua itu selalu dimulai dari satu pertanyaan yang sederhana,

“Hari ini mau masak apa?”