Pagi belum benar-benar meninggi ketika lorong-lorong Pasar Kanoman sudah dipenuhi aroma laut yang khas. Di atas meja-meja dagangan, ikan bandeng tersusun mengilap, udang segar masih berkilau di dalam baskom, sementara es yang mulai mencair perlahan mengalir ke sela-sela lantai pasar yang basah.
Di salah satu sudut, seorang perempuan paruh baya duduk di balik dagangannya. Tangannya bergerak lincah mengikis sisik ikan dengan sebilah pisau yang sudah akrab digenggam bertahun-tahun. Bunyi gesekan sisik yang berjatuhan berpadu dengan suara tawar-menawar dari lapak sebelah, menciptakan irama yang hanya dimiliki pasar tradisional.
Sesekali ia mengangkat wajah, menyambut pembeli yang datang membawa keranjang belanja. Tak banyak kata yang terucap. Hubungan antara pedagang dan pelanggan di tempat ini sering kali sudah terjalin jauh sebelum transaksi dimulai. Mereka saling mengenal, saling mengingat, bahkan saling mengetahui ikan seperti apa yang biasa dibawa pulang.
Pasar Kanoman memang telah lama menjadi denyut kehidupan Kota Cirebon. Berdiri tak jauh dari kawasan Keraton Kanoman dan jalur perdagangan lama, pasar ini tumbuh bersama sejarah kota yang sejak berabad-abad lalu hidup dari pertemuan budaya dan aktivitas niaga. Dari sinilah hasil laut dari pesisir utara bertemu dengan hasil bumi dari pedalaman, lalu berpindah ke dapur-dapur warga yang tak pernah benar-benar berhenti mengepul.
Di antara tumpukan ikan, udang, dan telur asin yang memenuhi meja dagangan, tersimpan cerita tentang kerja yang dimulai bahkan sebelum matahari terbit. Banyak pedagang sudah berada di pasar ketika sebagian besar warga masih terlelap. Mereka memilih hasil tangkapan terbaik, menata dagangan, lalu menunggu satu per satu pelanggan yang datang mencari kesegaran untuk hidangan hari itu.
Tidak ada kemewahan di balik lapak sederhana itu.
Hanya ketelatenan yang terus diulang setiap pagi.
Pisau yang diasah berkali-kali.
Tangan yang tak pernah lelah membersihkan ikan.
Dan senyum kecil yang tetap hadir meski hari baru saja dimulai.
Menjelang siang, keramaian Pasar Kanoman akan mencapai puncaknya. Lorong-lorong semakin padat, suara pedagang semakin riuh, dan aroma laut perlahan bercampur dengan wangi rempah dari kios-kios bumbu di seberangnya.
Namun sebelum semua itu terjadi, ada pagi yang selalu dimiliki pasar ini.
Pagi yang berbau laut.
Pagi yang menghidupi banyak keluarga.
Dan pagi yang mengingatkan bahwa di Cirebon, kehidupan sering kali dimulai dari tangan-tangan sederhana yang bekerja dalam diam, menjaga denyut kota tetap hidup dari balik sebuah lapak di Pasar Kanoman.