Harga di Dapur, Cerita di Meja Makan

Di sebuah warung sayur di Cirebon, tomat-tomat merah tersusun dalam keranjang kayu. Bentuknya tidak semuanya sempurna. Ada yang bulat, ada yang memanjang, sebagian masih menyisakan warna hijau di kulitnya. Namun pagi itu, semuanya punya tujuan yang sama: dibawa pulang ke dapur.

Bagi pembeli, mungkin hanya beberapa buah tomat.

Tetapi bagi sebuah keluarga, bahan kecil seperti ini adalah bagian dari cerita makan hari itu. Ia bisa menjadi sambal, bumbu tumisan, campuran sayur, atau sekadar pelengkap masakan yang sudah biasa hadir di meja makan.

Begitulah kehidupan dapur berjalan.

Tidak selalu dimulai dari hidangan yang sudah tersaji rapi. Sering kali ia bermula dari pasar, warung sayur, dan tangan seseorang yang memilih bahan satu per satu sambil menghitung berapa banyak yang bisa dibawa pulang.

Di Cirebon, warung sayur masih menjadi bagian penting dari keseharian seperti itu. Orang datang bukan untuk berbelanja dalam jumlah besar, melainkan mengambil apa yang memang dibutuhkan hari itu. Sedikit cabai, beberapa tomat, bawang, sayuran, mungkin telur atau tahu.

Belanja sederhana, tetapi keputusan di baliknya tidak selalu sederhana.

Ketika harga bahan makanan berubah, yang ikut berubah adalah cara sebuah keluarga mengatur dapurnya. Menu bisa berganti. Jumlah belanja bisa dikurangi. Bahan yang biasanya dibeli banyak mungkin cukup diambil beberapa buah.

Dari sinilah harga pangan sebenarnya terasa paling dekat.

Bukan di angka yang terpampang di layar, tetapi di tangan seorang ibu yang memilih tomat, di keranjang belanja yang semakin penuh, dan di meja makan tempat makanan akhirnya disajikan untuk keluarga.

Karena itu, kehidupan sebuah kota juga bisa dibaca dari hal-hal yang sangat kecil.

Dari harga cabai.

Dari tumpukan tomat.

Dari sayuran yang dibawa pulang.

Dan dari apa yang akhirnya muncul di atas meja makan.

Cirebon boleh terus berubah, tetapi setiap pagi selalu ada dapur-dapur yang tetap harus menyala. Dan cerita sebuah keluarga sering kali dimulai dari sana.