Tumpukan terong ungu terlihat sederhana di sebuah warung sayur. Warnanya mencolok di antara sayuran hijau yang ada di sekitarnya. Beberapa masih terlihat mulus, sebagian lainnya memiliki bekas goresan dan tanah yang menempel.
Tidak ada yang istimewa dari pemandangan itu bagi orang yang sedang berbelanja.
Namun bagi dapur sebuah rumah, beberapa terong bisa menjadi awal dari sebuah menu makan siang.
Digoreng, dimasak balado, ditumis, atau dimasukkan ke dalam sayur. Bahan yang sama bisa berakhir menjadi hidangan yang berbeda, tergantung siapa yang memasaknya dan apa yang tersedia di dapur hari itu.
Begitulah menariknya bahan pangan sehari-hari.
Ia datang dari kebun dan pasar, berpindah ke warung sayur, lalu masuk ke rumah-rumah warga. Perjalanannya sederhana, tetapi di sepanjang perjalanan itu ada banyak orang yang bekerja: petani yang menanam, pedagang yang membawa, penjual yang menata, hingga pembeli yang memilihnya untuk keluarga.
Di Cirebon, rantai kecil seperti ini menjadi bagian dari kehidupan yang sering luput diperhatikan.
Kita biasanya baru menyadari pentingnya bahan pangan ketika harganya berubah atau ketika barang yang dicari sulit ditemukan. Padahal setiap hari, kebutuhan makan keluarga bergantung pada benda-benda sederhana yang memenuhi pasar dan warung seperti ini.
Terong mungkin hanya terong.
Tetapi ketika sudah berada di meja makan, ia menjadi bagian dari kehidupan sebuah keluarga.
Dan dari warung sayur yang sederhana, kita sebenarnya sedang melihat satu hal yang lebih besar: bagaimana Cirebon hidup dari bahan-bahan yang setiap hari berpindah dari tangan ke tangan, sebelum akhirnya menjadi makanan di rumah warga.