Pernah merasa dada benar-benar sesak setelah patah hati, atau tubuh lemas setelah kehilangan orang yang berarti? Itu bukan sekadar perasaan. Psikologi modern menunjukkan bahwa rasa sakit emosional diproses otak hampir sama dengan rasa sakit fisik.
Penelitian neurosains menemukan bahwa saat seseorang mengalami penolakan, patah hati, atau duka, otak mengaktifkan area anterior cingulate cortex—bagian yang juga bekerja ketika tubuh merasakan nyeri fisik. Itulah sebabnya luka batin sering muncul sebagai gejala nyata: dada terasa berat, sulit tidur, mual, atau energi menurun.
Masalahnya, luka emosional kerap dianggap “nanti juga sembuh sendiri”. Padahal, seperti luka fisik, luka batin juga butuh perhatian. Jika terus ditekan, ia bisa berkembang menjadi stres berkepanjangan, kecemasan, hingga depresi.
Langkah awal penyembuhan sering kali sederhana: mengakui bahwa rasa sakit itu nyata. Bukan untuk larut di dalamnya, tetapi memberi ruang agar tubuh dan pikiran bisa mulai pulih.
✨ Afirmasi hari ini:
“Aku mengizinkan diriku merasakan sakit, dan aku juga mengizinkan diriku untuk pulih.”
Jika kamu sedang berada di fase kehilangan atau patah hati yang berat, ingatlah satu hal: kamu tidak sendirian.
💚 Ruang Pulih Hypnocare Center hadir untuk mendampingi proses pemulihan mental dan emosional secara lembut dan profesional.
🌐 Informasi: www.ruangpulih.web.id